Bonita dan nasib harimau Sumatera yang terdampak ‘problem alih fungsi lahan’

harimau Hak atas foto Kompas TV
Image caption Harimau Bonita tampak melintas di kawasan perkebunan sawit di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.

Tanpa ada prasangka, pada 10 Maret lalu, Rusli, Sarman, Indra, dan Yusri Effendi pergi dari rumah mereka melewati Sungai Kateman di Dusun Sinar Danau, Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Pagi itu, keempat pria tersebut hendak merampungkan pembangunan rumah burung walet.

Pekerjaan berlangsung seperti biasa, tanpa hambatan. Namun, setelah makan siang, keempatnya dikejutkan oleh keberadaan harimau. Mereka sontak naik memanjat bagian atas bangunan.

Kejadian itu, sebagaimana dipaparkan salah seorang pria kepada Mongabay, berlangsung sampai tiga kali.

Keempat pria itu baru berani turun saat langit sudah gelap dan jam menunjukkan pukul 18.00. Dalam perjalanan pulang, mereka berjalan berbaris. Yusri paling depan, diikuti Sarman, Indra, dan Rusli.

Tiba-tiba di tengah perjalanan, sang harimau kembali muncul. Mereka langsung lari lintang pukang, berpencar masing-masing.

Selang beberapa menit kemudian, Sarman memanggil saudara-saudaranya dan mengajak berkumpul. Hanya ada tiga orang, termasuk dia, yang menampakkan diri. Yusri hilang entah ke mana. Sarman, Indra, dan Rusli kemudian memutuskan mencari bantuan warga.

Dalam pencarian, Yusri ditemukan tidak bernyawa di atas rumput yang digenangi air. Tengkuknya sobek karena bekas gigitan harimau.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Gadis, seekor harimau Sumatera yang berada di Kawasan Wisata Barumun Nagari, Sumatera Utara, pada November 2016 lalu. Kaki depan bagian kanan harimau ini diamputasi akibat terperangkap jebakan babi hutan.

Korban kedua

Yusri merupakan korban kedua terkaman harimau yang dijuluki Bonita oleh masyarakat setempat.

Korban sebelumnya adalah Jumiati di Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, pada 3 Januari 2018. Perempuan itu diterkam harimau di dalam lahan konsesi PT Tabung Haji Indo Plantation saat sedang melakukan pendataan sawit.

Dua hari setelah Yusri meninggal dunia, puluhan warga mendatangi kantor Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau dan menyampaikan ultimatum.

Mereka menuntut BBKSDA membunuh Bonita dalam kurun tiga hari.

Walau tidak bisa berjanji membunuh Bonita dalam waktu yang ditentukan, tekanan warga mendorong BBKSDA untuk meningkatkan pelacakan harimau tersebut.

Dan pada 16 Maret lalu, Bonita sempat roboh kena tembakan bius. Namun tak lama setelah itu dia kabur ke dalam hutan.

"Pascapenembakan bius, sekarang dia lagi keluar dari area perkebunan. Bagian tengah perkebunan itu ada green belt, lebarnya sekitar 1,6 kilometer memanjang dari timur ke barat. Tim pada posisi cooling down, karena dia sudah cukup sadar ada kita yang akan membawa dia," tutur Kepala Bidang Wilayah I BBKSDA Riau, Mulyo Utomo, kepada BBC Indonesia.

Melalui kerja sama dengan kepolisian, TNI, lembaga World Wildlife Fund (WWF), serta masyarakat, BBKSDA Riau mampu mengerahkan tiga regu yang terdiri dari 52 orang. Akan tetapi, jumlah sumber daya manusia untuk menangkap Bonita tidak sebanding dengan lokasi pencarian yang sedemikian luas.

"Luas green belt yang di tengah kebun sawit sekitar 2.500 hektare. Ke arah baratnya ada hutan produksi, jadi green belt langsung connect dengan hutan produksi. Nah, di hutan produksi itu ada sungai kecil dan danau. Masyarakat memanfaatkan air danau untuk kebutuhan kampung kecil, namanya Dusun Danau," tutur Mulyo Utomo.

Hak atas foto Reuters
Image caption Populasi harimau Sumatera kian terancam oleh perburuan liar dan habitat yang terdesak perambahan lahan.

Alih fungsi lahan dan perilaku harimau

Habitat Bonita yang berada di antara lahan sawit, hutan produksi, dan permukiman penduduk menggambarkan akar permasalahan konflik harimau dan manusia di Sumatera.

"Harimau ini sebenarnya tidak mengganggu manusia jika habitatnya tidak terganggu. Ketika ruang jelajah dan pasokan makannya berkurang, dia merasa terancam, konflik satwa dan manusia pun terjadi,'' ungkap Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya, di Jakarta, Senin (19/3).

Pada kasus Bonita, daya dukung lingkungan terhadap kebutuhan dasarnya sudah tidak mencukupi lagi. Ruang jelajahnya juga terputus-putus karena banyaknya alih fungsi lahan, dari hutan menjadi kebun.

Berdasarkan data WWF, wilayah jelajah harimau sumatera di Riau lebih kurang 60 kilometer per segi. Sedangkan di Rusia, wilayah jelajah harimau bisa sampai 250 kilometer per segi.

Lokasi kejadian kasus Bonita, berada pada kawasan yang didominasi oleh Hutan Tanaman Industri (HTI) dan hanya menyisakan Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan dengan luas sekitar 93 ribu hektare, sebagai satu-satunya lokasi konservasi bagi satwa liar di kawasan tersebut.

''Kenapa Bonita susah ditangkap? ya karena medannya berat. Saya sudah pernah fly over, bahkan turun langsung ke lapangan. Memang dari satu tempat ke tempat lainnya di situ kebun yang luas. Padahal seharusnya ada ruang-ruang untuk habitat satwa,'' kata Menteri Siti.

''Ada problem dari alih fungsi lahan, yang dalam prakteknya belum diterapkan dengan optimal,'' imbuhnya.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Perambahan lahan konservasi oleh perusahaan sawit dan perusahaan kayu dinilai semakin mengancam habitat harimau Sumatera dan makhluk hidup lainnya.

Keterangan Menteri Siti Nurbaya diamini Sunarto, peneliti harimau di WWF.

Menurutnya, perambahan lahan yang kerap dilakukan perusahaan sawit dan perusahaan kertas, membuat harimau sulit menerapkan taktik berburu dengan cara menyergap.

"Cara harimau berburu mangsa adalah dengan bersembunyi lalu menyergap. Beda dengan cheetah di Afrika yang bisa berlari mengejar mangsa dalam jarak ratusan meter. Nah, taktik berburu dengan menyergap ini susah dilakukan kalau tutupan vegetasinya minim," ujar Sunarto.

Intensitas perjumpaan harimau dan manusia juga semakin sering karena tempat hidup harimau kian mengecil akibat perambahan lahan .

"Deforestasi di Sumatera, khususnya di Riau, dan lebih khusus lagi di daerah ini memang terjadi sangat drastis. Hutan Kerumutan dan Kampar sudah mulai terpisah dalam kurun 10-15 tahun terakhir. Ini yang membuat harimau disorientasi atau kehilangan jalur yang secara tradisional dilalui. Tiba-tiba terputus oleh perkebunan, tiba-tiba ada permukiman. Ini yang membuat interaksi harimau dengan manusia jadi semakin intens," papar Sunarto.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Seekor harimau tampak menyusuri air di Kebun Binatang Ragunan, Jakarta, beberapa waktu lalu. Estimasi populasi Harimau Sumatera di alam liar lebih kurang hanya tersisa 604 individu, dan di ek situ (Lembaga konservasi dalam dan luar negeri) sejumlah 383 individu.

Bonita sakit?

Bagaimanapun, Mulyo Utomo dari BBKSDA Riau menganggap keberadaan perusahaan kayu dan sawit merupakan keniscayaan.

"Ada perusahaan sawit dan HTI dalam kondisi normal ya merupakan keniscayaan. Di area itu ada persinggungan aktivitas harimau dan manusia, itu wajar karena ada jarak. Tapi sekarang ini ada keabnormalan terhadap perilaku satwa ini. Bonita, kami menyebutnya sedang sakit. Karena dialah yang selalu aktif mendekati aktivitas masyarakat," papar Mulyo.

Mulyo kemudian mencontohkan harimau lain berjuluk Boni yang juga hidup di kawasan itu. Dia mengaku punya bukti dalam kamera-kamera jebakan bahwa Boni tidak mengganggu manusia seperti Bonita.

Dugaan bahwa ada kelainan pada Bonita tidak ditepis Sunarto dari WWF. Namun, untuk memastikannya, Bonita harus ditangkap terlebih dahulu dan diobservasi.

"Harimau Sumatera kecenderungannya sangat menghindari manusia. Dalam kasus Bonita, beberapa kali setidaknya dia seperti kehilangan rasa takut pada manusia. Ini yang harus dipastikan dulu. Kenapa ini? Apakah ada faktor internal pada Bonita? Karena itu, Bonita harus ditangkap dulu. Setelah ditangkap harus diobservasi dan uji laboratorium," papar Sunarto.

Bagaimanapun, lepas dari kasus Bonita, pemerintah didorong untuk serius memberi ruang kepada populasi harimau agar tidak terdesak perambahan lahan. Hal ini dipandang akan meredam konflik harimau dan manusia.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Sejumlah perempuan merayakan Hari Harimau Internasional di Banda Aceh,pada 2017 lalu. Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap harimau dipandang salah satu faktor yang bisa mencegah penurunan populasi harimau di Indonesia.

Menteri KLHK, Siti Nurbaya, menyatakan ada peraturan berlapis di Kementerian Pertanian, Kementerian Agraria dan Tata Ruang, dan KLHK. Contohnya ada kewajiban paling sedikit 10% dari luas Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk menyediakan kawasan lindung, dan 20% areal tanaman kehidupan.

Akan tetapi, Menteri Siti mengaku seluruh peraturan ini belum sepenuhnya berjalan optimal di lapangan. Dia menegaskan KLHK tidak bisa bekerja sendiri, karena untuk kawasan perkebunan contohnya, memerlukan kebijakan lintas kementerian.

''Saya akan bicarakan hal ini dengan Menteri Pertanian, karena perlu kerja bersama semua pihak. Kalau perlu nanti kami usulkan kepada Bapak Presiden untuk mengeluarkan peraturan yang bisa jadi pedoman semua kementerian terkait,'' kata Menteri Siti.

Terdapat delapan sub spesies Harimau (Panthera tigris sp) di dunia, yang tersebar di 13 negara.

Adapun tiga sub spesies di antaranya berada di Indonesia, yaitu Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Harimau Bali (Panthera tigris balica), dan Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica).

Estimasi populasi Harimau Sumatera di alam liar lebih kurang hanya tersisa 604 individu, dan di lembaga konservasi dalam serta luar negeri sejumlah 383 individu.

Berita terkait