Dihukum mati, pasangan yang membunuh PRT dan menyimpan jenazahnya di kulkas

Filipina, Joanna Demafelis Hak atas foto Reuters
Image caption Pembunuhan Joanna Demafelis memicu kemarahan meluas di Filipina.

Pengadilan Kuwait menjatuhkan hukuman mati atas pasangan suami istri karena terbukti membunuh seorang pekerja rumah tangga, PRT, dan menyimpan jenazahnya di kulkas hingga setahun.

Pasangan suami Libanon dan istri Suriah tersebut dinyatakan bersalah secara in absentia -tanpa kehadiran mereka- dalam sidang Minggu (01/04).

Jenazah Joanna Demafelis, PRT asal Filipina yang berusia 29 tahun, ditaruh di lemari es di apartemen yang sudah kosong karena mereka tinggalkan dan baru ditemukan bulan Februari atau setahun lebih setelah pembunuhannya.

Pembunuhan Demafelis memicu ketegangan diplomatik antara pemerintah Kuwait dan Filipina. Muncul pula kemarahan yang meluas di kalangan rakyat Filipina, yang kemudian mendorong pemerintah Manila menerapkan larangan warganya bekerja di Kuwait.

Pasangan suami istri Libanon-Suriah itu berhasil ditengkap di ibu kota Suriah, Damaskus, pada bulan Februari setelah upaya pencarian yang dipimpin oleh Interpol.

Hak atas foto Reuters
Image caption Jenazah Joanna Demafelis, yang ditaruh di lemari es, baru ditemukan setahun lebih setelah dibunuh.

Pihak berwenang Suriah menyerahkan Nader Essam Assaf kepada pemerintah Libanon sementara istrinya, Mona, tetap ditahan di Damaskus.

Keduanya dilaporkan sedang menunggu permintaan ekstradisi dari Kuwait dan bisa mengajukan banding atas hukuman mati jika sudah tiba di Kuwait.

Pemerintah Manila mengatakan sudah mengatur pemulangan lebih dari ribuan pekerja Filipina yang 'merasa tertekan' di Kuwait setelah jenazah Demafelis ditemukan. Sebagian pekerja Filipina di Kuwait adalah PRT.

Hak atas foto AFP
Image caption Para pekerja Filipina yang tidak punya dokumen antri di depan Kedutaan Besar Filipina di Kuwait untuk mendapat pengampunan dari pemerintah Kuwait agar bisa pulang.

Duta Besar Filipina untuk Kuwait, Renato Pedro Villa, mengatakan kepada kantor berita AFP sekitar 4.000 warga Filipina yang tidak memiliki dokumen resmi sudah dipulangkan.

"Kami kini sedang dalam pembicaraan dengan pihak berwenang Kuwait untuk memberikan pengampunan agar memungkinkan 6.000 warga Filipina yang tidak memiliki dokumen bisa pulang."

Kementrian Luar Negeri Filipina memperkirakan sekitar 252.000 warganya bekerja di Kuwait.

Di sejumlah negara Teluk, para pekerja asing mendapat visa kerja berdasarkan sistem sponsor yang kontroversial yang disebut 'kafala'.

Dengan sistem tersebut maka para pekerja -yang sebagian besar merupakan PRT yang tinggal di dalam rumah- menjadi terikat dengan para majikannya selama masa berlaku visa.

Topik terkait

Berita terkait