Serba-serbi aksi protes ganjil: mogok seks hingga mogok terima uang

buruh Hak atas foto JUNI KRISWANTO/AFP/Getty Images
Image caption Para buruh menggelar aksi damai saat Hari Buruh di Jakarta, 1 Mei lalu.

Tanggal 1 Mei lalu para buruh Indonesia melakukan unjuk rasa besar tahunan, menyoroti berbagai masalah. Di luar 1 Mei, sesekali mereka melakukan pemogokan kerja menuntut perbaikan upah dan kondisi kerja. Namun di beberapa tempat dan zaman, para buruh (juga nonburuh) melancarkan pemogokan dengan cara-cara yang ganjil dan unik.

Berikut beberapa di antaranya.

Sopir bis: mogok tapi tetap melayani

Para sopir bus di Kota Okayama, Jepang, sedang melancarkan pemogokan, tetapi toh mereka tetap saja bekerja, mengemudikan bis, dan mengangkut penumpang.

Jadi mogok apanya? Pemogokan dilakukan di bagian sangat penting dari pekerjaan itu, pungutan ongkos. Mereka menolak menerima pembayaran ongkos dan karcis dari penumpang.

Para sopir itu sedang berjuang untuk mendapatkan jaminan kesejahteraan yang lebih besar di tengah persaingan sengit dari perusahaan kompetitor.

Metode ini memang banyak dipertanyakan: mencegah perusahaan mendapatkan pendapatan (dari karcis) ketika justru berjuang untuk peningkatan kesejahteraan mungkin saja bukan cara yang paling efektif.

Namun situs Japan News mengatakan bahwa angkutan gratis yang diakibatkan pemogokan itu justru membantu perusahaan mempertahankan hubungannya dengan para penumpang di tengah persaingan.

Mogok seks: seruan dari teater Yunani purba

Menolak berhubungan seks sering disebut sebagai senjata ampuh bagi perempuan yang bertekad untuk mewujudkan niat mereka, dan semuanya berawal dari komedi Yunani purba yang heboh, Lysistrata, karya Aristophanes.

Muak oleh Perang Peloponnesia yang sudah berlangsung sejak bertahun-tahun, kaum perempuan dari Athena zaman klasik turun tangan. Mereka menolak berhubungan seks dengan para suami mereka, dan memaksa kaum laki-laki untuk melakukan perundingan damai.

Lakon tersebut, siapa nyana, mengilhami berbagai aksi serupa oleh kaum perempuan di zaman modern di seluruh dunia.

Salah satu contoh yang paling dikenang adalah pemogokan seks yang dipimpin oleh Leymah Gbowee di Liberia pada 2003 yang membantu berakhirnya perang saudara di negara itu.

Tidak hanya berhasil menghentikan kekerasan, aksi itu juga berbuah Hadiah Nobel Perdamaian dan membantu Ellen Johnson-Sirleaf menjadi presiden perempuan pertama di Afrika.

Hak atas foto Vital voices
Image caption Leymah Gbowee meraih Hadiah Nobel Perdamaian lantaran berperan dalam mengakhiri perang sipil di Liberia.

Seorang perempuan Afrika lain, mengikuti langkah mereka. Misho Mboko, seorang anggota parlemen Kenya dari kalangan oposisi menyerukan kaum perempuan melakukan mogok seks untuk memaksa para suami atau kekasih mereka mendaftarkan diri sebagai pemilih untuk Pemilu Agustus lalu.

Ia yakin, hal itu bisa meningkatkan perolehan suara kubu oposisi.

Sebelumnya, di Togo, negara Afrika lain, pemogokan seks sudah diserukan untuk menggagalkan terpilihnya lagi presiden Faure Gnassingbé pada 2012.

Pemimpin oposisi Isabelle Ameganvi sebagai pemimpin Let's Save Togo, yang membawahi sembilan organisasi kemasyarakatan dan tujuh partai oposisi, menyerukan mogok seks selama sepekan untuk menentang UU Pemilu yang memudahkan kemenangan Faure Gnassingbé.

Sampai sekarang Presiden Faure Gnassingbé masih berkuasa. Tidak jelas mengapa aksi mogok seks itu tidak terlalu sukses.

Hak atas foto Reuters
Image caption Tiada perayaan kemenangan Piala Stanley pada 2005.

Tahun 2005 tanpa Piala Stanley

Sulit membayangkan dalam olahraga apa pun, bahwa seluruh musim kompetisi dibatalkan. Tetapi itulah yang terjadi pada Liga Hoki Nasional (National Hockey League, NHL) Amerika Utara pada musim 2004-2005.

Kesepakatan kolektif antara NHL dan serikat pemain gagal dicapai, menyebabkan perselisihan perburuhan yang berkepanjangan. Jalan buntu itu berakibat tidak dimainkannya 1.230 pertandingan sepanjang musim.

Hak atas foto BRIDGEMAN IMAGES

Pemogokan Dumbo

Pada tahun 1941, para juru animasi Disney melakukan pemogokan menuntut kenaikan upah dan pengakuan serikat. Namun mereka menjalankan aksi itu dengan memanfaatkan keterampilan artistik mereka.

Spanduk-spanduk dibentang di luar studio Burbank dan lokasi lainnya dengan sentuhan animasi. Antara lain gambar Pinokio dengan tulisan "Tidak ada ikatan pada saya"; Pluto menyatakan, "Saya lebih suka menjadi anjing ketimbang kudis" dan Mickey Mouse bertanya, "Apakah kami ini tikus atau manusia?"

Hak atas foto Disney
Image caption Produksi animasi Dumbo terpengaruh.

Pemogokan itu berlangsung selama lima pekan dan memengaruhi produksi animasi Dumbo. Bahkan, para pemogok itu dikarikaturkan dalam film sebagai para badut yang berangkat untuk "memukul bos besar untuk mendapat kenaikan gaji".

Kekacauan hukum di Boston

Ketika upah mereka menyusut akibat inflasi pasca-Perang Dunia I, para polisi di Kota Boston, Amerika Serikat, beraliansi dan pada 1919 melakoni aksi mogok.

Lantaran sebagian besar petugas polisi mogok, selama sekian malam pelanggaran hukum terus terjadi dan pasukan cadangan negara bagian dikerahkan untuk memulihkan ketertiban.

Para pemogok dicap sebagai 'desertir' dan 'para agen Lenin,' dan akhirnya mereka semua dipecat. Semua tuntutan mereka dipenuhi namun diberikan kepada para petugas yang menggantikan mereka.

Image caption Ribuan karyawan toserba Market Basket menuntut bos mereka kembali dipekerjakan.

Habis-habisan untuk Si Bos

Massachusetts modern mengalami pemogokan lain yang tidak biasa, dengan akhir yang jauh lebih bahagia.

Tetapi ini tidak ada hubungannya dengan gaji atau kondisi kerja.

Para staf di jaringan toko serba ada Market Basket hanya menginginkan satu hal: pengangkatan kembali bos mereka yang populer, Arthur T Demoulas, yang dipecat akibat sengketa keluarga pada Juni 2014.

Perselisihan sengit berlangsung sepanjang musim panas, mengakibatkan perusahaan setiap harinya kehilangan pendapatan sekitar US$10 juta (hampir Rp140 miliar dengan kurs sekarang).

Dan akhirnya penyelesaian dicapai ketika para pemegang saham setuju untuk menjual saham mereka kepada Arthur T Demoulas.

Topik terkait

Berita terkait