Pernikahan Harry-Meghan: Apakah membawa manfaat pada perekonomian Inggris?

Harry, Meghan, Inggris, pernikahan
Image caption Cendera mata seharga sekitar Rp40.000 sampai Rp200.000 banyak dibeli warga Inggris dan wisatawan dari berbagai negara.

Pernikahan anggota keluarga kerajaan di Inggris tidak terlepas dari peluang bisnis, dengan produksi mangkuk, kaus, maupun cendera mata, maupun dikembangkan menjadi berita yang bisa dijual media.

Dan sejumlah pihak di Inggris memandang pernikahan Pangeran Harry dan Meghan Markle memang akan menaikkan kegiatan bisnis mereka.

"Orang selalu menanyakan. Sudah sebulan ini banyak pembeli menanyakannya. Kami menginginkan gelas dan t-shirt Harry dan Meghan. Barang-barang seperti itu. Tetapi saat itu masih belum ada di pasar. Karena itulah sekarang kami punya stok," kata Zaman pedagang toko Money Exchange di pusat kota London.

"Orang menanyakannya. Membeli semuanya. Penjualan meningkat. Besar bedanya. Naik 10-15%. Dan akan meningkat mendekati tanggal 19 Mei."

Barang-barang souvenir yang setara dengan puluhan ribu sampai ratusan ribu rupiah tersebut banyak dibeli warga Inggris dan juga wisatawan dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia.

Sejumlah orang dari Indonesia dilaporkan juga akan mendatangi Inggris, khususnya ke tempat pernikahan di Windsor -sekitar 45km dari London- untuk melihat pernikahan pewaris takhta keenam kerajaan Inggris ini dengan aktris asal Amerika Serikat.

Image caption Pernikahan Pangeran Harry dan Meghan akan berlangsung di Windsor, sekitar 45km di sebelah barat London.

Tetapi apakah ini artinya pernikahan Harry atau keluarga kerajaan Inggris secara umum memang berperan penting dalam menggerakkan ekonomi?

"Hal ini tidak banyak pengaruhnya. Hal-hal seperti ini datang dan pergi. Banyak peristiwa besar di Inggris. Sebagian lebih populer dari yang lainnya. Uang yang dikeluarkan pada satu akhir minggu, akan dibelanjakan di akhir minggu yang lainnya," jelas Graham Smith, pimpinan puncak Republic, sebuah kelompok yang anti-monarki.

"Jadi semua pembicaraan tentang keuntungan ekonomi hanyalah omong kosong. Data yang kami terima menunjukkan jumlahnya sangat kecil, tidak akan kentara di PDB."

Image caption Media cetak, televisi, radio, dan internet terus memberitakan hubungan artis Amerika Serikat, Meghan, dengan Pangeran Harry.

Media berpihak?

Pernikahan anak kedua Putra Mahkota Pangeran Charles dan mendiang Putri Diana ini dengan janda cerai -yang lebih tua tiga tahun dan beribu kandung warga kulit hitam- banyak diliput berbagai media Inggris dan dunia.

Mulai dari televisi, cetak, radio, sampai internet juga berupaya memanfaatkan perkawinan Harry-Megan untuk meningkatkan pemasukannya.

"Sebagian besar majalah dan koran meliput cerita itu dalam beberapa minggu terakhir. Banyak orang menanyakannya. Bukan hanya orang Inggris tetapi juga warga Eropa," kata JK Patel penjual di kios pinggir di salah satu jalan di pusat kota London.

" Begitu mereka melihat foto Meghan dan Harry, mereka akan membelinya. Penjualan saya sedikit naik. Contohnya, biasanya saya menjual 10, sekarang saya menjual 15."

Salah satu orang yang terus mengikuti berita tentang Harry dan Meghan adalah Nicolae, warga Portugal asal Timor Leste.

"Saya ikut terus information itu. Saya tahu. Mangkanya saya doa saja semua bahagia. Saya suka baca. Always, always," katanya saat ditemui BBC News Indonesia di sebuah rumah makan Indonesia di London.

Image caption Pusat kota London sudah mulai dihias bendera Union Jack menyambut pernikahan Pangeran Harry tanggal 19 Mei, yang berlangsung di Windsor.

Tetapi berbagai liputan ini membuat Graham Smith yang anti-monarki, mempertanyakannya karena media menjadi berpihak dan tidak seimbang.

"Saya berharap media penyiaran Inggris tidak berpihak dan seimbang. Tetapi jika terkait dengan monarki dan keluarga kerajaan mereka meninggalkan berbagai bentuk kepura-puraan. Mereka berpihak dan tidak seimbang. Mereka ikut merayakan. Ini saatnya media mirip Thailand, bukannya Inggris," kata Graham.

Topik terkait

Berita terkait