Jepang mengalami deflasi

Jepang
Image caption Deflasi dikuatirkan menghambat pemulihan ekonomi Jepang

Deflasi kembali dialami Jepang untuk pertama kalinya sejak tahun 2006, seperti diperingatkan pemerintah.

Kantor kabinet mengatakan penurunan harga bisa menghambat pemulihan ekonomi, yang masih menghadapi resesi sampai kuartal kedua tahun 2009.

Pengumuman pemerintah ini muncul pada saat bank sentral Jepang mempertahankan suku bunga pada tingkat 0,1%.

Bank of Japan mengatakan perekonomian negara itu masih terus mendapat bantuan oleh kebijakan di dalam dan luar negeri.

Perekonomian Jepang tumbuh sebesar 48% pada masa Juli-September.

Diskusi lebih lanjut

Kantor kabinet mengatakan bahwa "Jepang berada dalam situasi deflasi yang ringan."

Keisuke Tsumura, sekretaris parlemen di kantor kabinet, mengatakan pemerintah kini akan bekerja dengan bank sentral untuk menghadapi situasinya, namun belum ada rencana yang sudah diputuskan.

"Saat ini kami belum memiliki gagasan khusus," katanya.

"Hal itu tergantung pada diskusi yang berkembang di masa depan."

Sementara itu Menteri Keuangan Hirohisa Fujii mengatakan deflasi ini menjadi keprihatinan.

"Turunnya harga-harga adalah tidak baik dan mengkuatirkan."

Deflasi -yang merupakan lawan dari inflasi- berarti bahwa harga-harga umum menurun.

Walau hal itu mungkin merupakan berita baik bagi beberapa orang, jelas membawa dampak buruk bagi semua orang.

Karena deflasi maka orang-orang terus menunggu untuk membeli barang, yang pada akhirnya mendorong lingkaran setan dengan menyebabkan turunnya belanja dan naiknya pengangguran.