Otobiografi sebelum tahun 1965 kurang

Bill Watson
Image caption Watson: otobiografi mengungkap banyak pengalaman penting

Otobiografi di Indonesia terkait masa sebelum tahun 1965 masih kurang dan karena itu masih belum banyak yang terungkap kejadian masa itu, menurut seorang profesor dari universitas Kent di Inggris.

"Yang saya perhatikan, banyak orang yang menceritakan riwayat hidup, pengalaman pahit mereka sesudah tahun 1965. Yang ingin saya tahu adalah pengalaman sebelum tahun 1965, sehingga ada lubang atas antara tahun 1950 dan 1965 atas mereka yang terlibat gerakan kiri," kata Bill Watson, pengajar dari Universitas Kent Inggris.

"Karena itu bila saya bertemu dengan penerbit, saya tekankan agar mereka membujuk orang untuk menulis pengalaman sebelum masa Gerakan 30 September," tambahnya.

Bill Watson mengatakan hal tersebut dalam pembahasan buku Of Self and Injustice dalam acara Reviers meet Reviewed yang berisi berbagai otobiografi di Indonesia dalam rangkaian seminar yang diselenggarakan Pusat Antropologi, British Museum di London tahun ini.

Bill Watson mengatakan saat ini kebanyakan buku otobiografi yang terbit di Indonesia berisi pengalaman setelah Gerakan 30 September 1965.

Buku yang dikaji Of Self and Injustice, autobiography and repression in modern Indonesia mengangkat sejumlah otobiografi yang sebagian besar terbit setelah Presiden Suharto turun tahun 1998.

"Otobiorgrafi dapat memahami perkembangan dan perubahan di Indonesia belakangan ini, dari keterangan yang tidak diperoleh dari wawancara langsung, buku politik dan sejarah.

Image caption Barnes: Indonesia sekarang jauh lebih terbuka

"Banyak hal bermakna sering diceritakan dalam novel atau otobiografi, kalau luput, maka ada satu dimensi yang hilang," kata Bill Watson yang melakukan penelitian doktoralnya di Kerinci, Sumatra.

"Banyak orang yang mau menulis sekarang, apalagi orang yang sudah tua. Dan bila tidak menulis sekarang, tidak ada lagi kesempatan bagi anak muda untuk mengetahui apa yang terjadi," tambah Watson.

Setelah reformasi tahun 1998, banyak bermunculan otobiografi tokoh yang terlibat dalam Partai Komunis Indonesia dan pegiat yang menentang mantan presiden Suharto.

Dua bab pertama bukunya mengangkat otobiografi pegiat PKI, Hasan Raid, pergulatan Muslim Komunis dan Achmadi Mustahal dari Gontor ke Pulau buru. Dan dua bab berikutnya terkait Gerakan Wanita Indonesia yang terkait PKI dan novelis Utuy Tatang Sontani, sastrawan yang bersama wartawan dan penulis Indonesia lain berkunjung ke Tiongkok tahun 1965 dan tidak kembali lagi karena pecah gerakan 30 september PKI.

Bab-bab selanjutnya mengangkat otobiografi tokoh petisi 50 termasuk AM Fatwa dan juga Deliar Noer.

Profesor Robert Barnes dari institut sosial dan antropologi budaya dari Universitas Oxford yang membahas Of Self and Injustice dalam acara di British Museum ini, mengatakan sangat banyak yang terungkap melalui buku otobiografi yang diangkat dalam karya Watson itu.

"Dari tahun 2000-2001, saya tinggal selama 14 bulan di Adenara di Flores, dan banyak orang pada masa itu datang yang angkat soal periode komunis di Adenara, baik yang pro dan yang anti komunis. Mereka bisa bicara bebas, tidak takut lagi.

Profesor Barnes sendiri juga menerbitkan buku tentang masyarakat di Lembata dan Adonara, di Flores.