Maling spesialis buku langka

William Jacques
Image caption Pencurian Jacques berhasil dengan latar belakang pendidikan tingginya

Seorang pencuri spesialis buku dikenai hukuman tiga setengah tahun penjara akibat menilap buku-buku langka dari sejumlah perpustakaan tersohor Inggris.

William Jacques bukan orang baru dalam dunia kriminal ini. Sebelumnya tahun 1990an dia sudah pernah diganjar hukuman empat tahun penjara karena mencuri sejumlah buku langka dari berbagai perpustakaan tua di Inggris.

Manuskrip dan buku-buku tua itu umumnya dikempitnya begitu saja dibalik jaket dari perpustakaan, lalu kabur seperti pengunjung biasa.

Jacques digelari 'Tome Raider', julukan yang mengingatkan pada film Hollywood tentang penjarah makam kuno, dan mengantongi uang senilai £1 juta dari aksi pencurian buku berharga tahun 1990an.

Seperti ditulis wartawan BBC Andrew McFarlane, Jacques dijatuhi hukuman empat tahun namun hal itu tidak membuatnya kapok, malah nampaknya terus membuatnya ketagihan.

Sasaran terakhirnya sebelum tertangkap adalah perpustakaan prestisius milik Royal Horticultural Society. Mulanya dia menyamar dengan nama palsu Santoro, kemudian dia menjalankan operasinya seperti biasa.

Buku yang hilang adalah edisi langka Nouvelle Iconographie des Camellias, karangan Ambroise Verschaffelt, namun kemudian seorang staf perpustakaan mencurigainya.

Meski cara kerjanya terhitung remeh, kecerdasan dan kelicinannya tak diragukan lagi.

Pendidikannya antara lain didapat dari Cambridge dengan studi tentang buku-buku antik dan berharga.

Database buku curian

Jacques mulai gemar mencuri buku dengan menilap koleksi perpustakaan universitas lamanya sendiri.

Antara Oktober 1996 dan Mai 1999, dia mencuri sekitar 500 buku amat langka serta berbagai pamflet dari Cambridge, British Library serta London Library.

Banyak diantaranya lalu lalu dijual melalui berbagai rumah lelang di Inggris dan mancanegara, dan membuatnya lebih kaya ratusan ribu poundsterling.

Aksi Jacques baru tercium saat satu dari sekian buku yang dicurinya sampai ke tangan penjual buku Jolyon Hudson.

Hudson curiga karena melihat pada buku itu terdapat bekas cap perpustakaan yang biasanya nampak pada sampul buku, halamannya sudah disobek, seolah ada bekas cap yang dhilangkan dan jilidnya diubah.

Hudson menelusur jejak buku itu sampai ke British Library hingga akhirnya polisi dilibatkan dan Jacques diciduk.

Meski buku berharga bukan sasaran jarahan kebanyakan pencuri, namun menurut Hudson, dari dealer buku Pickering & Chatto di London, pencurian buku berharga merupakan persoalan serius. Padahal banyak perpustakaan riset membatasi pengunjungnya hanya dari kalangan sangat terbatas.

"Ada kalangan yang punya akses ke perpustakaan seperti ini dan menyebabkan kerugian. Sulit menghentikannya," kata Hudson.

"[Jacques] sangat ahli. Nampaknya dia bisa menembus perpustakaan begitu saja dengan meyakinkan."

Pada banyak kasus pencurian, peta atau plat gambar dalam buku berharga itu disobek lalu dijual.

Menurut Hudson, aksi perusakannya sendiri sama bahayanya dengan aksi pencuriannya.

"Sejarahnya putus... merusak buku begitu rupa sehingga Anda kehilangan sumbernya," tambahnya.

"Kalau Anda mengambil halaman buku dimana ada tanda tangan Churchill, Anda akan punya satu buku tua dan satu halaman buku bertanda tangan tetapi Anda kehilangan konteks bagaimana tandatangan dan buku itu menjelaskan Churchill dan kapan."

Hudson dan kalangan perbukuan menilai, kasus pencurian buku tidak ditangani serius.

"Bayangkan kalau ada orang menyobek bagian tandatangan dari sebuah lukisan Monet. Apa orang juga akan mengatakan itu tidak penting?"

Saking jengkelnya pada merajalelanya kasus pencurian buku, bulan lalu Liga Penjual Buku Langka membentuk pusat data Buku Curian.

Liga itu mendorong agar penjual buku, perpustakaan dan museum, serta pemerintah dan polisi melengkapi rincian tentang buku yang dicuri, yang nantinya bisa jadi sumber rujukan bila ada kecurigaan mereka mendapati tawaran buku.

Di Inggris, Asosiasi Penjual Buku Langka sudah mulai menggulirkan sistem "rantai buku curian" dimana tiap agen saling bertelepon untuk hingga lima nomor untuk saling mengingatkan adanya kasus pencurian dan meneruskannya ke buletin asosiasi.

Presiden asosiasi ini, Julian Rota, mengakui bahwa buku curian bukan cuma dari perpustakaan tapi juga dari anggotanya kini makin banyak.