Terbaru  11 September 2010 - 12:10 GMT

Media Malaysia masih dikekang

Komputer

Para blogger merasa tidak bebas mengekspresikan opini mereka

Sejumlah aktivis hak asasi manusia mengkhawatirkan nasib blogger Malaysia, Irwan Abdul Rahman, yang dikenai dakwaan menerbitkan informasi palsu bulan ini.

Bila terbukti bersalah Irwan Abdul Rahman terancam hukuman penjara selama satu tahun. Wartawan BBC di Kuala Lumpur Jennifer Pak melaporkan kasus blogger Malaysia ini menjadi keprihatin bagi kalangan aktivis hak asasi manusia.

"Sebab, tidak seperti media arus utama, internet pada umumnya bebas dari sensor," kata Pak.

Irwan berurusan dengan hukum karena tulisannya tanggal 25 Maret 2010. Dalam tulisannya, Rahman menyebutkan bahwa perusahaan listrik negara, Tenaga menggugat Wold Wide Fund terkait upaya lembaga itu untuk mendorong warga menghemat energi. Tenaga menempuh langkah hukum karena prakarsa WWF merugikan perusahaan "jutaan dalam bentuk pendapatan yang tidak terwujud."

Namun tulisan sindiran Irwan Abdul Rahman tersebut tidak ditangkap sebagai humor oleh sebagian pihak.

Intimidasi

Pihak berwenang menuduh Irwan menulis tulisan yang menyakitkan dan kemudian mendakwa blogger ini. Berbagai aktivis hak asasi manusia mengatakan para blogger dan media online terlalu banyak mengalami intimidasi.

Salah seorang yang mengalami hal itu adalah Jeff Ooi, perintis blogging sosial politik di Malaysia. Dia mengaku tidak ingat berapa kali dia diperiksa oleh polisi terkait tuduhan pencemaran nama buruk dan penghasutan.

"Pada akhirnya saya tidak dihukum. Tetapi masalah ini bisa menyulitkan para blogger yang tidak mempunyai sumber daya untuk membayar pengacara. Langkah itu saya anggap sebagai bentuk penindasan terhadap kebebasan berbicara," kata Oii.

Penyelidikan seperti itu merupakan salah satu cara pihak berwenang dalam mengontrol isi tulisan di internet karena pada dasarnya pemerintah telah berjanji tidak akan melakukan sensor terhadap internet, lapor Jennifer Pak.

Langkah itu saya anggap sebagai bentuk penindasan terhadap kebebasan berbicara

Jeff Ooi

Celah ini memungkinkan situs-situs berita online independen seperti Malaysiakini beroperasi lebih bebas dibanding media arus utama. Tetapi menurut salah satu pendiri Malaysiakini Stephen Gan, intimidasi masih terjadi.

"Kami terus diintimidasi. Pers arus utama menyerang kami setiap saat. Kantor kami pernah digeledah oleh polisi dan 19 komputer kami disita," tutur Gan.

Di masa lalu pemerintah tidak menganggap media online sebagai ancaman karena hanya sepertiga rumah tangga di Malaysia mempunyai akses ke internet. Warga memperoleh informasi dari media arus utama yang secara langsung atau tidak langsung terkait dengan pemerintah.

Namun semua itu berubah setelah pemilihan umum 2008 ketika koalisi Barisan Nasional yang memerintah kehilangan kedudukannya sebagai mayoritas dua pertiga kursi parlemen untuk pertama kali selama empat puluh tahun.

Perdana menteri saat itu mengaku bahwa pemerintah meremehkan kekuatan internet dan sejak saat itu para pejabat pemerintah menjangkau masyarakat melalui media sosial. Perdana Menteri saat ini Najib Razak menggunakan Twitter.

Meski perkembangan ini menggembirakan, para blogger berpendapat dakwaan terhadap seseorang yang menulis sindiran adalah tindakan yang tidak saja menggelikan tetapi juga menunjukkan bahwa pemerintah masih berusaha mengontrol isi tulisan.

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.