Terbaru  16 Oktober 2010 - 16:47 GMT

Resiko Alzhameir kecil pada anak dwibahasa

Bayi bilingual lebih mudah beradaptasi

Anak-anak dwibahasa kemungkinan tertunda terkena demensia

Anak-anak yang mahir memakai dua bahasa kecil kemungkinan jadi bingung dan kecil kemungkinan menderita penyakit Alzheimer ketika mereka dewasa.

Ini adalah beberapa dari klaim dari sebuah hasil studi terbaru mengenai dwibahasa oleh ilmuwan Amerika dan pengarang Jared Diamonds yang terbit di majalah Science.

Secara global, jumlah orang yang berbicara dua atau lebih dari dua bahasa diyakini jauh lebih banyak daripada jumlah orang yang memakai hanya satu bahasa. Tetapi hingga tahun 1960-an, penelitian-penelitian menunjukkan bahwa anak-anak berbicara dwibahasa lebih lambat dalam menguasai bahasa.

Menurut profesor Diamond yang sekarang sedang mempelajari bahasanya yang ke-21, asumsi seperti itu sudah ketinggalan karena hasil penelitian yang paling baru mengisyaratkan tidak ada perbedaan dalam kemampuan kognitif dan kemajuan linguistik anak-anak yang multilingual dan monolingual.

Tetapi menurut profesor Diamond, ada kemungkinan, anak-anak itu menguasai bahasa tertentu secara lebih baik dibandingkan bahasa lainnya.

Pertunjukan boneka

Anak bayi yang dibesarkan dengan dua bahasa sudah harus berlatih memperhatikan [bunyi bahasa] sementara sebagian besar dari kita tidak terlatih untuk itu.

Profesor Diamond

Dia merujuk pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Ágnes Kovács dan Jacques Mehler. Mereka menguji tanggapan anak bayi yang dibesarkan oleh orang tua yang masing-masing berbicara dengan bahasa mereka sendiri kepada anak tersebut dan membandingkannya dengan tanggapan anak yang dibesarkan orang tua yang hanya memakai satu bahasa.

Mereka menemukan bahwa anak-anak yang "bilingual" menyesuaikan diri dengan cepat terhadap perubahan, dan mereka lebih cepat mengantisipasi di layar sebelah mana boneka itu akan muncul berdasarkan petunjuk bahasa.

Mereka melengkapi satu permainan dengan boneka yang muncul bergantian di sisi yang berbeda dari sebuah layar, tetapi setiap kali boneka akan muncul selalui didahului oleh kata-kata yang tak berarti.

Dalam wawancaranya dengan BBC, Profesor Diamond mengatakan hasil penelitian mereka mengisyaratkan bahwa individu-individu yang dibesarkan dengan dwibahasa memiliki kemampuan yang lebih baik untuk fokus pada situasi yang membingungkan.

"Seorang bayi yang dibesarkan secara dwibahasa belajar sejak umur tiga bulan untuk memperhatikan bunyi bahasa Italia dan mengabaikan ibu yang berbahasa Cina," kata dia memberi contoh.

"Tetapi jika ibu itu mulai berbicara, bayi itu mulai memperhatikan bunyi bahasa Cina dan mengabaikan bahasa Italia".

"Anak bayi yang dibesarkan dengan dua bahasa sudah harus berlatih memperhatikan [bunyi bahasa] sementara sebagian besar dari kita tidak terlatih untuk itu."

Terlambat Alzheimer

Tes otak bayi

Individu yang dibesarkan dengan dua bahasa bisa lebih fokus

Dia juga mencermati hasil kajian di Kanada yang mengisyaratkan bahwa orang-orang yang memakai lebih dari satu bahasa, kecil kemungkinan terkena demensia, termasuk Alzheimer.

Satu survei terhadap ratusan orang lansia Kanada yang menderita demensia ditemukan bahwa secara umum pasien yang memakai dua bahasa, terkena gejala ini empat tahun lebih lambat daripada teman-teman mereka yang hanya berbahasa tunggal.

Demensia adalah gejala kerusakan otak yang mengganggu kemampuan seseorang untuk berpikir, daya ingat dan fungsi berbahasa sehingga membuat pasien demensia kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari.

Penjelasan yang mungkin adalah individu-individu yang bilingual melatih otak mereka dengan cara-cara yang tidak dilakukan oleh teman-teman mereka yang berbahasa satu, dan karena itu mereka belakangan terkena demensia.

Namun begitu Profesor Diamond mengatakan bahwa hasil beberapa studi ini tidak bisa merupakan kesimpulan mutlak dari keuntungan memakai lebih dari satu bahasa.

Tetapi dia mendesak orang-orang untuk tidak melakukan kesalahan yang sama seperti dilakukan banyak pendatang di Amerika Serikat, termasuk beberapa dari keluarganya sendiri, yang memilih untuk tidak mengajarkan bahasa asli mereka kepada anak-anak mereka begitu mereka tiba di daratan Amerika.

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.