Bangau raksasa di Flores

Marabu raksasa alias bangau raksasa
Image caption Bangau raksasa (marabu) dikatakan jarang terbang, hanya tinggal di darat

Fosil burung bangau rakasa atau marabu ditemukan di pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Unggas besar yang bisa mencapai tinggi sampai 180 cm itu, diduga bisa mampu memburu dan memangsa anak-anak manusia kecil atau hobit (homo florensiensis) yang juga fosilnya ditemukan di pulau itu, kata para periset yang menemukan fosil tersebut.

Tetapi tidak ada bukti langsung yang menunjukkan burung raksasa itu memburu hobit.

Spesies manusia kerdil ini dikatakan bersaudara dekat dengan manusia modern.

Penemuan yang dilaporkan di Jurnal Margasata Masyarakat Linnean, juga menjelaskan bagaimana satwa liar praserajah beradaptasi dengan kehidupan di gugus kepulauan.

Tinggi dan berat

Spesies baru bangau raksasa yang bernama leptoptilos robustus ini tingginya 1,8 meter dengan berat sampai 16 kg menurut perkiraan para periset. Ini berarti burung itu lebih tinggi dan lebih berat dari spesies bangau yang ada sekarang.

Image caption Marabu modern jauh lebih kecil dari nenek moyangnya

Pakar ilmu fosil (palaentologi) Hanneke Meijer dari Museum Nasional Sejarah Alam di Washington DC, yang berafiliasi dengan Museum Nasional Sejarah Alam di Leiden, Belanda, membuat temuan ini bersama koleganya Dr Rokus Due dari Pusat Arkeologi Nasional di Jakarta.

Mereka menemukan serpihan empat tulang kaki yang telah menjadi fosil di gua Liang Bua di pulau Flores.

Tulang-tulang yang diduga milik seekor marabu itu berusia antara 20.000 sampao 50.000 tahun, karena ditemukan di endapan yang berusia sekitar itu.

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Bangau raksasa ini merupakan spesies terbaru berukuran ekstrem yang ditemukan di pulau yang juga pernah dihuni gajah kecil, tikus raksasa dan reptil besar.

"Saya melihat tulang-tulang marabu raksasa pertama kali di Jakarta, ketika tampak menjulang sendiri di antara tulang-tulang burung lain yang lebih kecil. Penemuan burung besar sudah lumrah di pulau-pulau, namun saya tidak menduga akan menemukan burung bangau raksasa," kara Dr Meijer kepada BBC.

Untuk sayap burung itu, hanya serpihan tulangnya yang ditemukan, tetapi para periset menduga bangau raksasa ini jarang terbang.

Panjang dan beratnya tulang kaki itu, dan ketebalan tulang itu sendiri, menunjukkan marabu yang sekarang sudah punah itu sangat berat sehingga lebih banyak usianya dihabiskan di darat.

Membesar dan mengecil

Image caption Lokasi gua Liang Bua (Liang Bua Cave) di Flores

Banyak spesises di pulau Flores yang berubah menjadi raksasa atau menjadi kerdil.

Fenomena ini disebut "faktor pulau", dan diduga ini terjadi karena sedikit mamalia pemangsa yang ada di Flores. Ini membuat spesies burung besar menjadi kecil, dan pemangsa (predator) lain menjadi besar.

"Mamalia besar seperti gajah dan primata menunjukkan penyusutan ukuran, sedangkan mamalia kecil seperti tikus dan burung berubah menjadi besar," kata Dr Meijer menjelaskan.