Pasca era pesawat Discovery

discovery Hak atas foto Reuters
Image caption Discovery dioperasikan mulai 1984 dan menjalani 39 misi ke ruang angkasa

Pesawat ulang-alik Discovery tidak akan lagi mengangkasa.

Usai menjalani misi yang ke-39, Discovery resmi menjadi sejarah dan akan menempati rumah baru di museum di dekat Washington dalam beberapa bulan ke depan.

"Untuk terakhir kalinya, roda pesawat berhenti," kata komandan misi Steven Lindsey begitu Discovery mendarat mulus di Kennedy Space Centre, Rabu (9/3).

"Selamat tinggal Discovery," kata petugas pengendali.

Discovery adalah wahana yang paling seri digunakan oleh NASA. Hingga misi terakhirnya, pesawat ulang-alik ini telah menempuh perjalanan 238 juta kilometer.

Catatan juga menunjukkan Discovery berada di ruang angkasa selama 365 hari.

Kini era Discovery telah berakhir, sesuatu yang membuat sedih mantan astronot dan komanda pesawat ulang alik Amerika, Eileen Collins.

"Agak menyedihkan, karena setelah program pesawat ulang-alik dihentikan, Amerika tidak akan bisa mengirim astronot ke ruang angkasa selama beberapa tahun, sampai ada pengganti pesawat ulang alik tersebut," kata Collins.

Kelemahan

"Pemerintah masih berencana untuk membuat pesawat baru yang bisa mengangkut astronot, tidak hanya ke stasiun ruang angkasa internasional, tetapi juga ke bulan, melewati asteroid, dan ke Planet Mars, suatu saat nanti."

"Saya secara pribadi berharap, manusia kelak bisa meninggalkan Bumi dan tinggal di planet lain," kata Collins.

AS masih memiliki Endeavour dan Atlantis, namun dua pesawat ulang-alik ini juga akan mengakhiri masa kerja mereka dalam beberapa bulan ke depan.

Mantan Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Dr Adi Sadewo Salatun, yang juga ahli roket, mengatakan kontribusi Discovery terhadap ilmu pengetahuan bisa dikatakan luar biasa.

Antara lain, mengangkut dan memasang teleskop Hubble.

Namun sebagai wahana, pesawat ulang alik -menurut Dr Adi Sadewo Salatun- juga memiliki beberapa kelemahan.

"Ini adalah konfigurasi yang tidak efisien. Ia harus membawa pesawat ke ruang angkasa dan kemudian membawanya kembali ke bumi," kata Sadewo.

"Ini juga wahana yang berbahaya. Ada dua kecelakaan yang menimpa pesawat ulang-alik," jelas Sadewo.

Rusia mengambil pendekatan yang berbeda, dengan memakai roket konvensional untuk mengangkut astronot ke ruang angkasa.

Terlepas dari kelemahan tersebut, Dr Sadewo mengatakan, Discovery adalah simbol keberhasilan misi ruang angkasa AS.

Simak perjalanan Discovery dalam Sains dan Teknologi BBC Indonesia, Senin (14/3) pukul 18.15 WIB.

Berita terkait