Riel Kamboja tetap bertahan

Kamboja Hak atas foto ap
Image caption Kamboja menggunakan riel untuk transaksi di bawah Rp8.700.

Di Kamboja, mata uang setempat riel dan dollar Amerika dipakai bersamaan.

Ini karena di Kamboja tidak terdapat uang logam. Koin tidak dikenal dalam riel Kamboja dan bank sentral negara ini berhenti menggunakan logam lebih sepuluh tahun lalu.

Uang kertas yang banyak digunakan. Uang kertas 50 riel yang nilainya sekitar Rp80 bahkan tetap digunakan meskipun jarang ditemui dan dianggap sama pentingnya dengan satu yen uang logam Jepang.

Jadi dompet dan tas akan dipenuhi setumpuk uang kertas, mulai dari uang baru yang masih bersih sampai ke uang kotor karena sudah banyak dipakai. Tetapi sejumlah orang memandang riel sebagai uang kembalian.

Hampir semua transkasi penting dihargai dan dibayar dalam dollar Amerika. Bagi para pengunjung negara itu misalnya, dollar dipakai untuk membayar visa kedatangan di bandara. Hal ini terus terjadi di seluruh negeri.

ATM menggunakan dollar. Hanya sedikit deposito bank dalam mata uang Amerika.

Dalam hal peminjaman, sebagian besar lembaga keuangan bahkan tidak akan berpikir untuk menggunakan mata uang selain dollar Amerika.

Pemboman bank

Warga asing yang mengunjungi Kamboja terbiasa dengan hotel dan maskapai penerbangan yang menetapkan harga dalam dollar untuk mengatasi gejolak mata uang setempat.

Tetapi di sini toko, pedagang dan bahkan tukang ojek menggunakan dollar. Anak muda yang akan bekerja di perkantoran mengharapkan gaji mereka dalam mata uang Amerika.

Tetapi tidak satupun uang logam Amerika digunakan. Jadi orang menggunakan mata uang Kamboja bagi transaksi di bawah satu dollar atau kurang dari Rp8.700.

Semua orang mengetahui nilai tukarnya adalah 4.000 riel per satu dollar Amerika.

Itulah nilai tukar sejak permulaan abad. Penduduk terbiasa menerima pembayaran dalam dua mata uang ini. Uang kertas US$5 atau uang kertas 20 ribu riel misalnya, nilainya sama bagi sebagian besar warga Kamboja.

Pasar nilai tukar cukup marak karena orang berharap diuntungkan dari fluktuasi mata uang yang tidak terlalu tinggi.

Ini adalah sistim yang membuat semua orang bahagia. Dan hal ini dapat dipahami jika anda mengkaji sejarah.

Kamboja tidak memiliki mata uang di akhir tahun 1970an, saat Khmer Merah Maois melarang uang dan merusak bank sentral. Ketika riel diperkenalkan kembali di tahun 1980-an, pemerintahan yang didukung Vietnam, pada mulanya harus menariknya karena penduduk tidak mempercayai riel.

Riel anjlok ketika pasukan PBB memerintah Kamboja di permulaan tahun 1990an. Mereka membawa dollar dalam jumlah besar ke negara itu. Pada akhirnya riel dipatok pada tingkat 4.000 per dollar dan berperan sebagai mata uang kedua.

Pen-dollar-an?

Hak atas foto reuters
Image caption Harga saham dalam riel, perdagangan dalam dolar

Tetapi akhir-akhir ini muncul desakan bagi perubahan. Mereka menggunakan peluncuran Pasar Saham Kamboja sebagai alasannya.

The Wall Street Journal menerbitkan tajuk rencana bulan lalu tentang Kamboja menggunakan Pasar Saham sebagai kesempatan untuk menggunakan dollar secara menyeluruh.

Koran tersebut mengatakan langkah ini akan menarik semakin banyak penanam modal asing yang tidak perlu khawatir bahwa gejolak mata uang akan mengurangi keuntungan mereka. Sama seperti yang dilakukan negara tetangga Vietnam.

Tetapi terdapat kelompok berpengaruh yang mendukung pemakaian riel di pemerintahan dan Bank Sentral. Mereka kemungkinan memandang pasar saham sebagai kesempatan terakhri untuk menjadikan riel sebagai mata uang yang mandiri.

Jalan keluarnya kemungkinan cukup dikenal banyak pihak. Saat Pasar Saham dibuka, kemungkinan dalam beberapa bulan lagi, saham kemungkinan akan menggunakan riel. Tetapi perdagangan akan dilakukan dalam dollar, paling dalam tiga tahun pertama bursa saham.

Ini kemungkinan akan sangat membingungkan atau justru sama mudahnya dengan membayar dengan satu mata uang dan mendapatkan kembalian dalam mata uang lainnya. Orang Kamboja sudah biasa melakukan hal ini.