Bidan untuk kurangi kematian bayi di Afghanistan

Terbaru  9 April 2011 - 14:51 GMT
bayi di afghanistan

Para bidan sekarang lebih bisa diterima ulama dan masyarakat Afghanistan

Air mata Rogul perlahan menetes membasahi pipinya. Dengan kerudung biru, ia coba untuk menyekanya.

Ia bertutur kepada saya bahwa ia kehilangan sembilan bayi saat melahirkan mereka di rumah. Kelahirannya yang pertama prematur. Ibu Rogul meminta nasehat ulama setempat.

Sang ulama meminta Rogul berdoa dan memberinya air suci. Bayi laki-laki tersebut kemudian meninggal dunia.

Bayi kedua meninggal dunia akibat infeksi beberapa jam setelah dilahirkan. Kisah pilu ini terulang hingga kelahiran yang kesembilan.

Nasib yang sama dialami Pashtu. Bayi ibu muda ini juga meninggal dunia beberapa jam setelah dilahirkan. Saya bertanya mengapa bayinya meninggal dunia.

Ia tidak menjawab. Bibinya yang kemudian berbicara kepada saya. "Pashtu terlalu kurus. Ia tidak cukup makan," kata bibinya. "Makanya bayinya meninggal dunia."

Rogul dan Pashtu tidak sendirian. Di Afghanistan ini angka kematian ketika melahirkan tinggi, bahkan salah satu yang tertinggi di dunia.

Para wanita menghadapi risiko 1:11 meninggal dunia ketika hamil dan melahirkan. Satu dari lima anak meninggal dunia setelah kelahiran atau sebelum berusia lima tahun.

Kebiasaan buruk

Banyak bayi meninggal dunia di sini antara lain karena kebiasaan-kebiasaan tradisional. Misalnya, bayi yang baru lahir langsung dimandikan dengan air yang sangat dingin. Padahal ini bisa membuat bayi mengidap pneumonia.

"Kalau kami banyak bertanya soal kehamilan, kami dianggap gadis nakal"

Ibu muda di Afghanistan

Tali pusar bayi juga sering kali dipotong dengan alat yang tidak bersih. Tidak jarang bayi diletakkan di lantai yang kotor dengan harapan tidak ada ruh jahat yang mendekati bayi tersebut.

Ibu-ibu juga tidak memberi ASI kepada bayi mereka karena menganggap susu ibu sebagai barang yang kotor. Mereka memberi bayi yang baru lahir mentega cair.

Padahal ASI sangat penting bagi sistem kekebalan bayi.

Pengetahuan tentang kehamilan juga minim. Dua ibu muda yang saya temui di rumah sakit di ibukota Kabul mengatakan tidak tahu bagaimana kehamilan terjadi.

"Kalau kami banyak bertanya soal kehamilan, kami dianggap gadis nakal," kata mereka dengan muka memerah karena malu.

Dokter di sini mengatakan keluarga berasumsi ibu-ibu muda akan tahu dengan sendiri soal kehamilan dan melahirkan. "Banyak gadis-gadis di sini yang telah menikah tidak menyadari bahwa berhubungan seks dengan suami mereka bisa berakibat kehamilan," ungkap dokter.

Pelatihan bidan

Namun sedikit demi sedikit situasi seperti ini berubah.

Kementerian kesehatan telah meluncurkan program pelatihan 400 bidan per tahun.

Program ini berhasil karena yang dilatih bukan wanita pendatang. Mereka adalah ibu-ibu anggota masyarakat sehingga kehadiran mereka tidak ditolak oleh ulama atau pihak suami.

Tidak mengherankan bila jumlah ibu melahirkan yang dibantu bidan naik tiga kali lipat sejak 2003.

Dan salah satu lulusan pelatihan bidan ini adalah Rogul, wanita yang kehilangan sembilan bayi.

Rogul sekarang aktif membantu ibu-ibu melahirkan bayi dengan selamat.

Ia sendiri telah memiliki tiga anak, satu laki-laki dan dua perempuan. "Sekarang saya tahu apa yang harus saya lakukan kalau saya hamil lagi," kata Rogul, kali ini dengan senyum lebar di wajahnya.

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.