Campuran kopi dan kacang bakar untuk warga Kuba

Pekerja menimbang kopi di sebuah pabrik di Havana. Hak atas foto Reuters
Image caption Warga Kuba sebenarnya terbiasa dengan campuran kopi dan kacang polong bakar.

Kuba kembali mencampur kopi dengan kacang polong bakar sebagai upaya untuk mengatasi meningkatnya harga kopi di pasar internasional.

Pihak berwenang mengatakan campuran untuk kebutuhan dalam negeri itu membantu penghematan mengingat harga kopi naik 69% dibanding tahun lalu.

Langkah itu diumumkan lewat sebuah pernyataan di koran resmi milik Partai Komunis, Granma.

Granma melaporkan harga kopi meningkat dari US$ 1.740/ton menjadi US$ 2.904/ton selama setahun ini, bersamaa dengan naiknya kebutuhan pangan lain.

Sedangkan harga kacang polong -menurut Granma- naik 30%, namun dengan dengan US$500/ton jelas masih di bawah harga kopi.

Kuba membutuhkan impor kopi karena produksinya tetap tidak mampu memenuhi kebutuhan walaupun belakangan ini mendapat investasi.

Bersamaan dengan dimulaikan campuran kopi dan kacang polong bakar, ransum kopi untuk anak-anak berusia enam tahun ke bawah juga dihapuskan.

Pernyataan yang dimuat di Granma menyebutkan kombinasi kebijakan itu akan membuat pemerintah tetap mampu mendistribusikan kopi dengan harga yang disubsidi, yaitu 4 peso atau sekitar Rp170 untuk kantung ukuran 4 ons.

Sudah terbiasa

Campuran kopi dan kacang polong bakar sebenarnya merupakan hal yang biasa bagi para pecinta kopi di Kuba.

"Jauh lebih lebih pahit dibanding kopi asli, yang lebih lembut," kata Froilan Valido, seorang warga Havana kepada kantor berita AFP.

"Namun orang Kuba sudah terbiasa dengan itu."

Kuba pernah merupakan salah satu pengekspor kopi utama, namun produksi belakangan ini tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam negerinya.

Bulan lalu, bos perusahaan kopi negara, Antonio Aleman, mengatakan sudah menginvestasi US$9,5 juta selama lima tahun terakhir untuk modernisasi produksi.

Namun, menurutnya, Kuba masih perlu mengimpor 12.000 ton untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sebanyak 18.000 ton.

Kebijakan pencampuran kopi dengan kacang polong ini diisyaratkan oleh Presiden Kuba, Raul Castro, pada Desember tahun lalu ketika menyatakan Kuba tidak mampu mempertahankan anggaran US$50 juta untuk mengimport kopi dan memberikan ransum untuk semua warga Kuba, terlepas dari usianya.

"Jika kita ingin tetap minum kopi asli yang tidak diransum, satu-satunya jalan keluar adalah memproduksinya di Kuba, dan sudah terbukti bahwa semua kondisi untuk perkebunannya tersedia," katanya.

Berita terkait