Ancaman terhadap arca dan cagar budaya Indonesia

Terbaru  16 Mei 2011 - 20:41 WIB
Candi Borobud

Pembersihan Candi Borobudur karena terkena debu Gunung Merapi dilakukan para sukarelawan.

Indonesia pernah menjadi salah satu pusat budaya dan agama Budha di Asia ratusan tahun yang lalu, yang terlihat dari peninggalan situs-situs Budha dan arca yang kebanyakan tersebar di pulau Jawa dan pulau Sumatera.

Di Museum Nasional Jakarta, misalnya, bisa dilihat arca Bhairawa Budha atau Siwa yang berasal dari abad ke XIV, yang ditemukan di Sumatera Barat.

Kepala Bagian Pendidikan dan Publikasi Museum Nasional, Dedah Rufaedah Sri Handari, mengatakan Bhairawa Budha itu hanyalah satu dari ribuan koleksi peninggalan kerajaan Budha-Hindu dan jaman prasejarah yang ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia.

Namun ada ancaman terhadap koleksi Museum Nasional itu, dan salah satunya adalah tingkat kelembaban dan instrusi air laut.

Dengar di Siaran BBC

Laporan Sri Lestari tentang ancaman atas arca dan cagar budya bisa anda dengar di Berita dunia BBC Indonesia, Selasa 17 Mei 2010, Pukul 18.00 WIB.

"Di sekitar sini kelembaban sangat tinggi jadi harus diupayakan pengadaan demodifier atau pengatur kelembaban. Itu sudah ada, untuk mengatasi kelembababnnya lebih stabil.

Kementrian Budaya dan Pariwisata mencatat sekitar 200-an bangunan cagar budaya peninggalan kerajaan Budha di Indonesia, walaupun jumlah sebenarnya diperkirakan lebih banyak karena mereka masih melakukan identifikasi terhadap sekitar 80.000 bangunan cagar budaya.

Dana tidak cukup

Sebenarnya bukan hanya arca saja yang terancam, melainkan juga cagar budaya.

Direktur Peninggalan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Yunus Satrio Atmojo, mengatakan keberadaan bangungan cagar budaya peninggalan kerajaan Budha dan Hindu terancam perubahan cuaca, yang terjadi beberapa tahun terakhir.

Terutama bangunan yang terbuat dari batu bata seperti situs Candi Muaro Jambi yang terletak di Provinsi Jambi.

"Ini sekarang menjadi kerpihatinan kita karena tahun lalu dan tahun ini, relatif kita tidak ada musim kering. Jadi peneterasi air itu ke dalam bangunan sangat tinggi. Air itu memembawa garam-garam, nah ini yang merusak batu," tutur Yunus Satrio Atmojo.

"Dana itu memang bisa dicermati dengan sisi lain, antara lain dengan bantuan masyarakat. Artinya dukungam masyarakat sekarang ini sangat menggembirakan."

Yunus Satrio Atmojo

Masalah yang hampir serupa juga dialami cagar budaya yang terbuat dari bata, yang cenderung menyimpan air.

"Percepatan keluar yang relatif lamban membuat batanya selalu lembab, dan itu yang membuat dia berlumut sehingga strukturnya melemah."

Selain faktor cuaca ekstrem, bencana alam juga merupakan ancaman bagi bangunan cagar budaya seperti Candi Borobudur yang terkena abu vulkanik dari letusan Gunung Merapi.

Dan pembersihan candi Borobudur masih dilakukan hingga kini oleh para relawan.

Yunus mengatakan pengerjaan oleh relawan disebabkan pemerintah hanya memiliki perawatan rutin yang tidak akan cukup untuk kondisi darurat seperti bencana.

"Wah, kalau dana memang tidak pernah cukup. Luar biasa kita kekurangan dananya."

"Dana itu memang bisa dicermati dengan sisi lain, antara lain dengan bantuan masyarakat. Artinya dukungam masyarakat sekarang ini sangat menggembirakan," tambah Yunus.

Untuk mengantisipasi masalah perubahan cuaca yang menjadi ancaman bagi keberadaan bangunan candi, pemerintah juga tengah melakukan berbagai kajian, antara lain membuat pengaturan aliran air dari hujan, dengan tujuan agar tidak menyerap dan menggenangi di pondasi bangunan.

Topik Terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.