Hakim izinkan hukuman mati difilmkan

Terbaru  22 Juli 2011 - 11:48 WIB

Andrew DeYoung membunuh orangtua dan adiknya pada tahun 1993.

Lazimnya, sebuah proses hukuman mati dilakukan di tempat yang dirahasiakan dan hanya disaksikan sejumlah orang yang memang berkepentingan.

Jadi, hampir dipastikan tidak akan diizinkan untuk mengambil foto apalagi merekam proses hukuman mati dalam bentuk film.

Namun, seorang hakim di Negara Bagian Georgia, Amerika Serikat, atas permintaan seorang terpidana mati, mengizinkan proses hukuman mati untuk Andrew DeYoung diabadikan dalam bentuk film.

DeYoung, 37, terpidana kasus pembunuhan orang tua dan saudara perempuannya itu disuntik mati, Kamis (21/7) malam waktu setempat.

Apa alasan pengabadian proses hukuman mati ini?

Pengacara Gregory Walker -terpidana mati lainnya- mengatakan dengan rekaman hukuman mati itu menunjukkan bahwa obat yang digunakan untuk eksekusi tak menimbulkan rasa sakit.

Gregory Walker, dijatuhi hukuman mati tahun 2005 karena membunuh pelayah hotel yang mencuri uang dan obat-obatan terlarang miliknya.

Pentobarbital

DeYoung menjalani hukuman mati dengan cara disuntik menggunakan pentobarbital, obat yang biasa digunakan untuk membunuh hewan.

Sejumlah negara bagian AS kini menggunakan pentobarbital, karena persediaan obat suntik mati yang biasa digunakan sodium thiopental menipis.

Dalam proses eksekusi, DeYoung mendapat tiga kali suntikan.

Beberapa saat setelah obat masuk ke dalam tubuhnya DeYoung mengedip dan tersedak selama sekitar dua menit.

Selanjutnya, seperti dikutip AP, mata DeYoung kemudian menutup dan dia tak bergerak lagi.

Dokter menyatakan DeYoung dinyatakan meninggal dunia pada pukul 20.04 waktu setempat atau sekitar pukul 08.04 WIB.

Pizza dan es krim

"Saya minta maaf kepada semua yang pernah saya sakiti."

Andrew DeYoung

DeYoung, dikirim ke hukuman mati setelah dinyatakan bersalah membunuh kedua orang tuanya dan adik perempuannya yang berusia 13 tahun dengan cara menusuk mereka.

Peristiwa tragis yang terjadi tahun 1993 itu terjadi karena didasari sengketa warisan.

Menjelang hukuman matinya, DeYoung meminta pizza, buah anggur dan strawberry serta es krim rasa vanilla sebagai hidangan terakhirnya.

Namun, dia menolak tawaran untuk melakukan doa terakhir.

Saat petugas menanyakan pernyataan terakhirnya, DeYoung hanya meminta maaf untuk semua orang yang pernah disakitinya.

"Saya minta maaf kepada semua yang pernah saya sakiti," kata DeYoung untuk terakhir kalinya.

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.