Skandinavia mulai batasi senjata api

Terbaru  16 Agustus 2011 - 14:17 WIB

Aksi Anders Brevik membuat negara-negara Skandinavia berniat batasi kepemilikan senjata api.

Di negara-negara Skandinavia, di mana berburu menjadi tradisi, memiliki senjata api selama ini dianggap sebagai sebuah kebiasaan normal.

Tetapi, tragedi berdarah di Norwegia yang menewaskan 77 orang pada 22 Juli lalu, membuka mata negara-negara ini untuk memperketat kepemilikan senjata api.

Upaya perubahan ini dipastikan tak akan berjalan mulus di kawasan yang menganggap berburu adalah warisan nenek moyang dan menembak sebagai salah satu olahraga favorit ini.

Finlandia adalah salah satu negara di dunia dengan kepemilikan senjata api tertinggi di dunia. Tercatat 1,5 juta pucuk senjata api beredar di negeri berpenduduk 5,3 juta jiwa itu.

Dan, perdebatan soal pembatasan atau pengetatan kepemilikan senjata api sudah mulai menghangat.

Undang-undang baru mengharuskan seseorang harus berusia minimal 20 tahun untuk memiliki pistol dan 18 tahun untuk kepemilikan senjata berburu.

"Tak seorang pun di negeri seperti Finlandia membutuhkan senapan di rumahnya," kata Menteri Luar Negeri, Erkki Tuomija, beberapa hari setelah Anders Behring Brevik membunuh puluhan orang.

Aturan berubah

"Tak seorangpun di negeri seperti Finlandia membutuhkan senapan di rumahnya."

Menlu Finlandia, Erkki Tuomija

Hingga Juni tahun ini -sesuai undang-undang lama- seorang warga Finlandia minimal berusia 15 tahun bisa memiliki senjata api.

Namun, aturan itu berubah ketika Finlandia diguncang dua kasus penembakan di sekolah dalam rentang satu tahun.

Pada November 2007, Pekka Eric Auvinen, 18, menembak mati delapan orang di sebuah SMA di Jokela, sebelah utara Helsinki. Usai membunuh, Auvinen kemudian menembak dirinya sendiri.

Setahun kemudian, tepatnya September 2008, seorang mahasiswa Matti Saari membunuh 10 orang di ruang kelasnya di kota kecil Kauhajoki. Sama seperti Auvinen, Saari kemudian bunuh diri.

Sejak saat itu, Tuomija bersikeras di masa depan akses untuk memperoleh senjata api harus diperketat.

Hobi berburu dan mengoleksi senjata api harus diawasi dan didaftarkan pada klub-klub menembak.

Tak selalu didukung

Seruan pengetatan kepemilikan senjata api juga muncul tak hanya di Norwegia, namun juga di Denmark, Islandia dan Swedia.

Namun, tak semua seruan ini mendapat dukungan warga.

Berburu adalah olahraga favorit masyarakat negara-negara Skandinavia.

"Tak ada satupun aturan yang bisa menghalangi niat seseorang. Di Norwegia, Brevik butuh sembilan tahun untuk mempersiapkan aksinya," kata Erik Lakomaa dari Asosiasi Menembak Nasional Swedia.

Intinya, Lakomaa tidak melihat perlunya perubahan undang-undang yang mengatur kepemilikan senjata api di negerinya.

Dengan populasi 9,4 juta jiwa, di Swedia tercatat sebanyak dua juta pucuk senjata api beredar di tengah-tengah masyarakat.

Tak hanya itu, 190.000 orang anggota federasi berburu memiliki lisensi untuk memiliki hingga enam pucuk senjata api tiap orangnya.

"Cara paling mudah mendapatkan senjata api adalah di pasar gelap," kata Lakomaa.

Sehingga, lanjut Lakomaa, polisi harus berupaya lebih keras untuk membasmi peredaran gelap senjata api ini.

Ketua Asosiasi Manajemen Olahraga Finlandia, Matti Roponen, sepakat bahwa pengetatan undang-undang bukanlah solusi.

"Mereka yang melakukan aksi kekerasan bukanlah anggota aktif klub menembak atau klub berburu," kata Roponen seperti dikutip AFP.

Negara lain seperti Denmark tercatat memiliki 750.000 unit senjata api di antara 5,5 juta warganya.

Bahkan, Islandia yang hanya berpenduduk 320.000 jiwa memiliki 60.000 pucuk senjata api resmi.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.