Ratusan juta petani Cina pindah ke kota

Terbaru  10 Oktober 2011 - 15:06 WIB

Diperkirakan 100 juta petani akan memadati daerah perkotaan di Cina pada 2020.

Lebih dari 100 juta petani Cina akan pindah ke perkotaan pada 2020 mendatang. Ramalan ini memberikan tantangan baru bagi para perancang perkotaan.

Cina kini menghadapi gelombang urbanisasi besar-besaran setelah jutaan pekerja migran membanjiri perkotaan untuk menjadi buruh.

Proses urbanisasi yang kemudian menyediakan tenaga kerja murah ini ternyata membantu Cina yang berkembang menjadi negara dengan ekonomi terkuat kedua di dunia.

Baru-baru ini pemerintah merilis laporan bahwa pada 2020 diramalkan penduduk perkotaan akan dipadati sedikitnya 800 juta orang.

Ramalan pemerintah ini berdasarkan pada survei populasi migran di 106 kota tahun lalu.

Survei itu menemukan bahwa 20% keluarga buruh migran mengeluarkan uang lebih besar dari yang mereka dapatkan.

Dan kurang dari setengah keluarga buruh migran yang menyisihkan pendapatan mereka untuk asuransi kesehatan atau dana pensiun.

Sebagian dari mereka adalah warga desa yang berangkat ke kota untuk mencari penghasilan yang lebih baik.

Banyak masalah

Kehidupan di perkotaan ternyata tak sebaik yang diduga para pekerja migran Cina.

Tingkat urbanisasi Cina yang tinggi sejauh ini sudah menimbulkan banyak masalah misalnya para pendatang diperlakukan sebagai warga kelas dua.

Meski tinggal di kota, warga pendatang ini masih tercatat sebagai penduduk desa.

Akibatnya, mereka tidak memiliki sistem pengamanan sosial dan harus membayar mahal hanya untuk memasukkan anak mereka ke sekolah negeri.

Sehingga sebagian besar dari mereka memilih untuk tidak menyekolahkan anak-anaknya.

Tak seperti orang tua mereka, para generasi kedua pekerja migran ini mulai memahami hak-haknya.

Dan mereka mulai merasa frustrasi atas perlakuan yang mereka terima di berbagai kota.

Bulan Juni lalu pecah kerusuhan di Provinsi Guangdong di kawasan selatan Cina.

Kerusuhan pecah setelah rumor tentang polisi yang memukuli pedangang kaki lima hingga tewas saat tengah membawa istrinya yang hamil.

Sejumlah aksi protes juga pecah di berbagai kota yang menjadi sentra industri menunjukkan rasa frustrasi yang dirasakan para pekerja migran atas ketidakadilan dan semakin lebarnya jurang pemisah antara si miskin dan si kaya.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.