Bir dari singkong ala Afrika

Bir Singkong Hak atas foto 1
Image caption Bir Impala ini diproduksi di Mozambik dan membutuhkan 40.000 ton singkong tiap tahun.

Pengolahan singkong atau ubi kayu di Indonesia biasanya hanya terbatas direbus, dibakar atau digoreng sebelum dikonsumsi.

Di beberapa daerah singkong menjadi makanan utama seperti nasi tiwul atau diolah menjadi pengganti beras.

Dan singkong selama ini identik sebagai makanan ringan dan bahkan tak sedikit yang menjuluki singkong adalah makanan masyarakat kelas bawah.

Nah, di Afrika Selatan ternyata singkong memiliki manfaat lain selain dikonsumsi sebagai makanan.

SABMiller, perusahaan bir terbesar di kawasan Afrika bagian selatan belum lama ini meluncurkan produk terbarunya yaitu bir singkong.

Produk bir ini berbahan dasar hingga 70% adalah singkong.

Harga terjangkau

Selama ini minuman keras hasil fermentasi singkong dan umbi-umbian lain di Afrika sangat populer karena murah dan mengandung alkohol tinggi.

Sehingga, dari bahan yang murah ini manajemen SABMiller yakin bir yang diberi nama Impala ini dapat dijual dengan harga yang lebih murah dibanding bir konvensional.

Meski singkong termasuk makanan pokok di Afrika, namun SABMiller mengatakan penggunaan singkong tidak akan mengakibatkan pasokan makanan berkurang.

Bir Impala ini diproses di Mozambik dan membutuhkan 40.000 ton singkong mentah setiap tahunnya.

Kebutuhan singkong yang besar ini membuat SABMiller bekerja sama dengan para pentani kecil untuk menjamin pasokan singkong.

"Dalam proyek Farming Better Futures ini, SABMiller menawarkan potensi pertanian yang luar biasa untuk masyarakat," kata Direktur Pelaksana SABMiller, Mark Bowman.

Proyek ini, lanjut Bowman, menyediakan lapangan kerja untuk sedikitnya 1.500 petani dan keluarganya.

Lalu bagaimana rasanya? Wartawan BBC di Johannesburg Milton Nkosi melaporkan rasa bir Impala ternyata tak berbeda dengan bir konvensional.

Selamat minum singkong.

Berita terkait