Sayembara Qantas malah memicu kemarahan

Maskapai penerbangan Qantas Hak atas foto AFP
Image caption Qantas sempat menghentikan total operasinya dan sekitar 70.000 penumpangnya terlantar.

Sebuah sayembara di Twitter yang digelar maskapai penerbangan Australia Qantas justru memancing kemarahan.

Sayembara itu meminta pengguna Twitter menggambarkan 'mimpi mewah mereka dalam penerbangan' dan pemenangnya akan mendapat paket hadiah Qantas.

Namun yang didapat malah ungkapan kemarahan terhadap Qantas, yang meluncurkan sayembara itu setelah gagalnya perundingan dengan serikat buruh, hari Selasa (22/11).

Qantas menggelar sayembara tersebut sebagai bagian dari promosi penerbangan Kemewahan Qantas.

Salah seorang pengguna Twitter menyindir para petinggi Qantas dengan menulis, "Kemewahan Qantas artinya minum champagne dalam pesawat jet perusahaan sambil menghentikan seluruh maskapai, negara, pelanggan, dan staf."

Pengguna lain mengartikan Kemewahan Qantas sebagai "hanya lebih dari tiga menit untuk memberi tahu seluruh maskapai terkena aksi mogok."

"Kemewahan Qantas adalah mendapatkan pengembalian uang tiket saya setelah menunggu hampir satu bulan," tulis seorang pelanggan Qantas yang tampaknya terkena dampak penghentian total operasi pada akhir Oktober lalu.

Kegagalan Humas

Sengketa Qantas dengan serikat buruh menyebabkan maskapai penerbangan itu sempat menghentikan operasi seluruh pesawatnya pada tanggal 29 Oktober.

Akibatnya sektiar 70.000 penumpang Qantas terlantar di seluruh dunia.

Para pekerja Qantas yang bergabung dengan serikat buruh melancarkan aksi mogok untuk menentang rencana restrukturisasi perusahaan.

Walau didera oleh kemarahan, Qantas malah menanggapi dengan tenang dan menulis pesan di Twitter, "Dengan cara seperti ini, sayembara Kemewahan Qantas akan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dinilai."

Seorang pengamat media sosial, Peter Clarke, berpendapat bahwa yang dilakukan Qantas memperlihatkan budaya perusahaan yang tidak mau mendengar.

"Kegagalan hubungan masyarakat yang amat besar dan menjadi contoh studi yang tepat tentang budaya perusahaan yang tuli. Mereka sama sekali tidak mengerti," tulisnya.

Ketika manajemen Qantas memutuskan untuk menghentikan total operasi, Perdana Menteri Australia Julia Gillard menuding para bos Qantas mengambil tindakan ekstrem dan tidak bertanggung jawab.

Berita terkait