Kabut polusi menutupi Beijing

Penumpang di bandara Beijing Hak atas foto AFP
Image caption Ribuan penumpang terdampar di bandara Beijing karena kabut polusi sejak Minggu (04/12).

Kabut akibat polusi yang menyelimuti Beijing menyebabkan dibatalkannya ratusan penerbangan dan menimbulkan kemarahan besar penduduk di ibukota Cina itu.

Jutaan penduduk mengungkapkan kemarahan melalui internet akibat kabut tebal yang menutup Beijing dalam beberapa hari terakhir.

Pemerintah Cina mengatakan udara di Beijing hanya sedikit terganggu polusi namun stasiun pengawas independen menyebutkan level polusi jauh lebih buruk dari yang digambarkan pemerintah.

Penduduk setempat banyak yang khawatir atas dampak kabut atas kesehatan mereka dan menyebabkan penjualan masker meningkat tajam, lebih dari 20.000 setiap hari.

Ratusan penerbangan dibatalkan karena buruknya jarak pandang Minggu dan Senin (05/12) dan membuat marah ribuan penumpang di bandar udara Beijing yang merupakan bandara tersibuk kedua di dunia.

Tayangan televisi menunjukkan ribuan penumpang masih menunggu di bandara dengan harapan dapat berangakt dengan penerbangan berikut.

Jarak pandang sudah membaik Selasa (06/12) namun 80 penerbangan domestik dan 10 internasional dibatalkan karena salju ringan.

Perbedaan pengukuran

Kedutaan Amerika Serikat di Beijing menyebut kondisi udara di kota itu "sangat tidak sehat."

Kedutaan AS melakukan pengukuran kualitas udara tersendiri.

Sejumlah organisasi internasional termasuk PBB menyebut Beijing sebagai salah satu kota dengan polusi udara terburuk di dunia karena meningkatnya konsumsi energi.

"Batubara adalah penyebab utama polusi udara di Beijing," kata Zhou Rong, pakar polusi udara di Greenpeace, Cina kepada kantor berita AFP.

"Konsumsi batubara di Cina meningkat dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir," tambahnya.

Pemerintah kota Beijing berupaya keras membersihkan polusi udara menjelang Olimpiade 2008 dengan menutup pembangkit listrik tenaga batubara dan membatasi jumlah mobil di jalan.

Namun kualitas udara di ibukota Cina itu tetap buruk.

Kabut polusi yang sering terjadi antara bulan Oktober dan November menimbulkan debat publik di antara 20 juta penduduk ota itu.

Keprihatinan mereka didasarkan pada data yang dikumpulkan kedutaan AS dengan cara pengukuran yang berbeda dibandingkan yang dilakukan pemerintah kota Beijing.

Cina mengukur kualitas udara dengan mendata partikel di udara yang berukuran 10 mikrometer atau kurang sementara kedutaan AS mendata partikel 2,5 mikrometer.

Menurut harian resmi Cina, bila standar Amerika yang digunakan maka hanya 20% kota di negara itu dengan kualitas udara memuaskan.

Berita terkait