Klaim asuransi banjir Thailand capai US$8 miliar

Terbaru  6 Desember 2011 - 18:05 WIB
Pabrik mobil Honda di Thailand

Sekitar 1.500 kawasan industri ditutup akibat banjir terparah di Thailand dalam 50 tahun terakhir.

Perusahaan asuransi Swiss Reinsurance memperkirakan nilai yang ditanggung untuk banjir di Thailand mencapai antara US$8 hingga 11 miliar (Rp72-Rp99 triliun).

Perusahaan Swiss ini sendiri mengatakan menanggung sekitar US$600 juta akibat dampak banjir terparah Thailand dalam setengah abad belakangan.

"Tingkatan air masih tinggi di sejumlah tempat sehingga sulit untuk memperkirakan secara tepat jumlah kerugian," tulis pernyataan Swiss Re.

Perusahaan tersebut menjual tanggungan lain kepada pihak asuransi lain untuk mengatasi kerugian besar di Thailand.

Lebih dari 600 orang meninggal, jutaan ton hasil pertandian hancur, dan produksi industri sempat terhenti akibat banjir yang terjadi mulai Juli lalu.

Pejabat Swiss Re, Brian Gray, mengatakan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di kawasan banjir kemungkinan akan menanggung kerugian dalam waktu lama.

Pembangunan kembali

"Dampak banjir terhadap perekonomian dan bisnis di Thailand diperkirakan akan besar dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama," kata Gray.

"Dampak banjir terhadap perekonomian dan bisnis di Thailand diperkirakan akan besar dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama."

Brian Gray

Sekitar 1.500 kawasan industri terkena dampak banjir, tambahnya.

Saham Swiss Re di bursa Zurich turun hampir satu persen menyusul pengumuman ini.

Banjir di Thailand kini mulai mereda di sejumlah tempat dan sebagian pabrik sudah kembali berproduksi.

Pemerintah dan bank sentral Thailand mengurangi perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun ini akibat banjir.

Pemerintah Thailand diperkirakan akan mengeluarkan anggaran besar untuk pembangunan kembali paskabanjir.

Ekspor beras turun

PM Yingluck Shinawatra

PM Yingluck Shinawatra membagikan bantuan untuk korban banjir.

Sementara itu ekspor beras Thailand tahun 2012 diperkirakan turun setengah menjadi lima juta ton karena tingginya harga dibandingkan beras dari Vietnam dan India.

Penurunan ini dapat menggeser posisi Thailand sebagai eksportir beras terbesar dunia di batas Vietnam.

Di tengah persaingan ini, Thailand telah memulai lagi pembicaraan dengan Indonesia -yang beberapa waktu lalu membeli 250.000 ton dari pemasok India- untuk perjanjian antar pemerintah terkait penjualan beras.

"Perdagangan beras swasta benar-benar terhenti sekarang karena harga yang tidak bersaing sementara beras dari India dan Vietnam tersedia dengan harga lebih murah," kata Korbsook Iamsuri, kepala Asosiasi Eksportir Beras Thailand, kepada kantor berita Reuters.

Ekspor beras Thailand per tahun mencapai antara 9-10 juta ton. Bulan Oktober lalu, Korbsook mengatakan ekspor tahun depan turun menjadi sekitar tujuh juta ton per tahun.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.