Mobil nasional dan nama-nama hewan

Fin Komodo Hak atas foto FIN Komodo
Image caption Pemilik Komodo mengklaim produknya lebih bagus dan murah dibanding produk asing serupa.

Mengapa pembuat mobil nasional gemar menggunakan nama-nama hewan sebagai nama kendaraan mereka?

Hingga pertengahan 1990-an, cita-cita membangun industri mobil nasional masih menjadi salah satu program utama pemerintah.

Salah satu proyek rintisan yang dicanangkan pemerintah saat itu, adalah merancang dan memproduksi mobil bernama Maleo (macrocephalon maleo), yang diambil dari nama burung endemik di Sulawesi.

Meski proyek itu gagal setelah rezim Suharto memutuskan memberikan dukungan dan subsidi finansial besar pada proyek mobnas untuk anak bungsunya, Tommy Suharto, tradisi menamai jenis kendaraan roda empat dengan nama hewan tetap berlanjut hingga lebih dari 15 tahun kemudian.

"Nama Maleo itu dipilih karena saat itu memang kita mencari jenis hewan yang lincah, gesit, dan asli Indonesia," kata Ibnu Susilo, yang saat Maleo dirancang pada 1996 menjabat sebagai kepala insinyur desain mobil nasional.

Ibnu juga pernah bekerja sebagai Kepala Departemen Master Dimensi Definisi dan bertanggung jawab untuk seluruh bentuk perancangan pesawat terbang N-250 di PT Dirgantara Indonesia, sebelum kemudian banting setir sebagai produsen kendaraan off road.

Produk unggulannya diberi nama Fin Komodo.

"FIN itu singkatan dari Formula Indonesia. Nah Komodonya itu juga diambil sebagai ciri khas nama Indonesia," kata Ibnu.

Nama komodo (varanus komodoensis), menurut Ibnu, sangat khas sehingga tak perlu keliru menyebutnya dalam bahasa apapun di dunia.

"Bahasa Inggrisnya ya komodo, Arab ya komodo, Cina juga komodo," jelasnya sambil terkekeh.

Produk kendaraan yang umum dipakai di lapangan untuk area sulit di perkebunan, pegunungan dan pertambangan ini sudah dijual sejak 2009 dan menurut Ibnu kinerjanya 'lebih baik' ketimbang kendaraan sekelasnya meskipun buatan asing.

"Kalau Anda coba naik, ketemu jalan tidak rata dan bergelombang, guncangannya nyaris tidak terasa, seperti naik sedan."

"Desainnya dibuat antiguling karena cengkeraman kaki-kakinya sangat kuat, seperti badan dan kaki komodo," tambah Ibnu berpromosi.

'Tak sesuai'

Sekitar 10 tahun setelah Maleo lahir, dan mati muda, lahir Marlip alias Marmut Listrik LIPI.

Hak atas foto LIPI
Image caption Tipe Marlip yang dirancang untuk jalan raya ini belum dipasarkan karena aturan mobil listrik belum ada di Indonesia.

Kendaraan mini untuk dua sampai empat penumpang ini adalah produk mobil listrik pertama di Indonesia, dilahirkan dari tangan para peneliti di Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI.

"Idenya dulu adalah bahwa marmut ini binatang yang kecil tapi lincah, gesit, dan cepat beranak-pinak," kata Maksun Syamsuddin, pemilik PT Patra Teguh Abadi, yang kini menjadi pemasar komersial Marlip.

Apa daya, ternyata kemudian pertumbuhan si marmut (mures montii) ini tidaklah secepat yang dicita-citakan. Dalam setahun terakhir ini, menurut Maksun, hanya 20 unit yang dipasarkan.

"Tapi namanya tetap Marlip, nanti muda-mudahan masih terus berkembang-biak," katanya.

Setelah Marlip muncul pula Kancil, kendaraan kecil yang mudah ditemui ditemui di beberapa titik sekitar pusat ibukota Jakarta dan sempat diproyeksikan menggantikan keberadaan ribuan unit kendaraan angkutan penumpang Bajaj yang dianggap tak manusiawi dan polutif.

Kancil yang merupakan akronim dari Kendaraan Niaga Cilik Irit Lincah ini dibuat ramah lingkungan dnegan sistem hybrid; mampu beroperasi baik dengan pasokan BBM maupun gas.

Nama Kancil (tragulus javanicus) juga mengingatkan orang pada kejayaan Kijang (muntiacus muntjak) salah satu produk best seller di Indonesia dari Toyota, pabrikan otomotif raksasa Jepang.

Nyatanya Kancil gagal mengekor kesuksesan Kijang dan sampai kini belum mampu menggeser dominasi Bajaj dari jalan-jalan di ibukota.

'Nama mantap'

Kendaraan lain yang juga didesain sekelas dengan Bajaj dan Kancil, adalah Tawon, besutan PT Super Gasindo Jaya, yang berlokasi di Rangkasbitung, Banten.

Hak atas foto 1
Image caption Tawon akan genjot produksi dengan membangun pabrik baru di Rangkasbitung, Banten.

Nama Tawon, menurut perancang dan pemilik Gasindo, Koentjoro Njoto, merupakan inspirasi dari hewan lebah madu (apex indica).

Alkisah pada tahun 2007 saat Tawon baru dirancang, Koentjoro mengaku sedang mencari-cari nama yang dianggap cocok untuk produk kendaraan idamannya.

"Maunya yang dimengerti oleh balita sampai manula, orang di mana saja,"kisah Koentjoro.

Dalam sebuah rapat yang berkaitan dengan produksi mobilnya, tiba-tiba muncul nama Tawon.

"Pulang dari meeting itu, kok ya mobil saya penuh dengan tawon," tambah Koentjoro.

Nama Tawon juga diyakininya membawa berkah karena hewan peghasil madu ini dideskripsikan rajin bekerja, suka gotong-royong, produktif, dan bahkan seperti disebut Koentjoro 'disebut sebagai mahluk istimewa dalam kita suci al-Qur'an'.

"Pokoknya saya mantap pakai nama itu," tambahnya serius.

Mantap di sisi nama nampaknya belum memastikan kemulusan proyeksi bisnis Tawon. Produk yang semula direncanakan dilepas ke pasar umum tahun lalu, baru direncanakan akan dirilis pada khalayak awal tahun ini.

Meski demikian Koentjoro tetap meyakini kesaktian nama pilihannya.

Buktinya, sementara ini sudah ada pesanan 200 unit Tawon jenis Metro, sebagai kendaraan angkutan perkotaan di Surabaya dan beberapa lokasi lain.

Pria yang mengaku hanya butuh tiga bulan mendesain Tawon itu juga yakin, berkah Tawon masih terus mengalir ditengah hebohnya isu mobil nasional beberapa pekan terakhir.

"Kami siap buka pabrik baru yang bisa memproduksi maksimal 600 unit tawon per bulan."

Berita terkait