Metode sel punca embrio untuk mata dianggap aman

Gambar komputer dari mata yang dipindai. Hak atas foto Science Photo Library
Image caption Masih dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membuktikan metode sel punca dari embrio untuk mata.

Hasil-hasil awal dari uji coba pertama atas manusia dengan menggunakan sel punca dari embrio untuk mengobati penyakit mata menunjukkan metode tersebut aman.

Perusahaan Amerika Serikat, Advanced Cell Technology, mengatakan kepada jurnal ilmiah The Lancet bahwa dua pasien yang menerima pencangkokkan retina berada dalam kondisi baik empat bulan setelah operasi.

Bersama Institut Mata Jules Stein di Universita California, Los Angeles, perusahaan itu melaporkan pengalaman mereka dalam uji coba pengobatan pertama dengan metode tersebut untuk manusia.

Metode itu menggunakan sel yang diambil dari embrio manusia yang kemudian dimanipulasi agar bisa tumbuh di dalam sel yang mendukung mata, yaitu retina.

Para ilmuwan berharap dengan mencangkok sel ke dalam mata yang sakit, maka sel akan mampu memulihkan pandangan orang yang menderita penyakit mata yang selama ini tidak bisa disembuhkan, seperti penyakit Stargardt yang antara lain menyebabkan kebutaan pada usia muda.

Dua pasien

Studi yang dilakukan melibatkan seorang pria berusia 70-an yang menderita AMD atau Age-related Macular Degeneration, yang banyak menyebabkan kebutaan pada manusia lanjut usia di negara-negara maju.

Pasien lain adalah seorang perempuan berusia 50-an, yang menderita penyakit Stargardt.

Masing-masing pasien mendapat suntikan yang terdiri dari 50.000 pigmen sel selaput retina ke dalam salah satu mata mereka yang sakit.

Setelah operasi, bukti-bukti memperlihatkan sel-sel tersebut melekat ke membran mata -sesuai dengan yang diharapkan- dan tetap bertahan selama 16 minggu berikut.

Prosedur itu juga tampaknya aman karena tidak memperlihatkan tanda-tanda penolakan maupun pertumbuhan sel yang tidak normal.

Bagaimanapun para ahli mengingatkan masih diperlukan waktu bertahun-tahun untuk membuktikan pengobatan dengan metode tersebut.

"Tujuan puncak dari terapi adalah untuk memberi pengobatan lebih awal kepada pasien dalam proses penyakit yang secara potensial meningkatkan kemungkinan penyelamatan photoreceptor dan pusat visual," seperti ditulis Advanced Cell Technology di jurnal The Lancet.

Potensi penentangan

Uji coba dengan metode yang sama kini sudah dilakukan juga di sebuah rumah sakit mata di London.

Seandainya metode ini memang memungkinkan di masa depan, agaknya tetap akan menghadapi penentangan yang sengit dari pihak-pihak yang menentang penggunaan sel embrio.

Dr Dusko Ilic -pengajar senior Ilmu Sel Punca di King's College London- mengatakan temuan awal ini tidak harus dilihat sebagai awal dari pengobatan yang bisa dijalankan.

"Kita tetap harus mengngat bahwa manusia bukan tikus."

"Prioritas pertama dalam uji coba klinis selalu keselamatan pasien. Jika setiap orang berharap bahwa pasien yang buta akan bisa melihat setelah mendapat pengobatan dengan sel punca dari embrio manusia, dan jika pengobatan itu akhirnya aman, mereka menghadapi risiko kekecewaan yang tidak perlu," jelas Dr Dusko.

Bagaimanapun seorang ahli sel punca Inggris lainnya, Chris Mason menyambut baik langkah ini.

"Kita belum memilki jawaban yang utuh sekarang. Namun ini langkah maju yang berarti."

Berita terkait