Tahanan di Kirgistan menjahit mulutnya

Tahanan di Kirgistan Hak atas foto AFP
Image caption Aksi unjuk rasa menentang kondisi penjara yang buruk sering terjadi di Kirgistan.

Sekitar 1.300 tahanan di berbagai penjara Kirgistan menjahit mulut sebagai protes atas kondisi penjara yang buruk.

Sementara itu hampir 6.000 lainnya melanjutkan aksi mogok makan yang dimulai sejak sepekan lalu.

Unjuk rasa ini berlangsung setelah maraknya kekerasan di sebuah penjara di ibukota Kirgistan, Bishkek, pada tanggal 16 Januari yang menyebabkan sedikitnya seorang tahanan tewas dan belasan lainnya cedera.

Wartawan BBC, Rayhan Demytrie, melaporkan sejumlah tahanan memilih untuk menjahit mulutnya setelah mereka dipaksa untuk makan oleh sipir penjara.

Pihak berwenang mengatakan kerusuhan disebabkan para pemimpin kelompok penjahat yang menentang pengaturan yang lebih ketat di dalam penjara.

Penyiksaan di penjara

Namun pejabat hak asasi manusia Kirgistan, Tursunbek Akun, yang bertemu dengan sejumlah pengunjuk rasa hari Rabu (25/1), mengatakan kepada BBC bahwa salah satu tuntutan para tahanan adalah agar penyiksaan oleh sipir penjara dihentikan.

Para tahanan, menurut Tursunbek Akun, juga menuntut perbaikan kondisi tahanan

"Situasi seperti bencana, beberapa di antara mereka tergeletak dan sebagian tidak bisa berbicara."

"Mereka menuntut agar penjaga berhenti memukuli mereka. Mereka ingin jaminan agar insiden 16 Januari tidak terulang lagi. Mereka khawatir jika menghentikan mogok makan maka mereka akan dipukuli lagi," tuturnya.

Aksi mogok makan dan unjuk rasa dalam bentuk lain sering terjadi di penjara-penjara Kirgistan untuk menuntut perbaikan kondisi kehidupan di sana.

Bulan lalu, seorang pelapor khusus PBB yang berkunjung ke Kirgistan menyatakan kondisi di beberapa penjara amat menakutkan dan perlakuan buruk maupun penyiksaan terhadap tahanan terjadi secara meluas.

Pemerintah mengatakan penyebab utamanya adalah keterbatasan dana dan kelompok-kelompok penjahat yang membuat onar di dalam penjara.

Berita terkait