Virus zebra tewaskan beruang kutub

Terbaru  17 Agustus 2012 - 16:45 WIB
Beruang kutub

Beruang kutub yang mati di kebun binatang terkena virus yang didapat dari zebra.

Para peneliti mengatakan penyebab infeksi yang menewaskan beruang kutub di kebun binatang Jerman diketahui berasal dari zebra.

Para ilmuwan memperingatkan virus yang dapat bermutasi di antara spesies binatang ini dapat membahayakan spesies yang dilindungi.

Dalam laporan yang diterbitkan jurnal inCurrent Biology, para peneliti mengatakan virus yang menular ke spesies lain ini dapat mempengaruhi upaya konservasi yang dilakukan kebun binatang.

Flu, misalnya, diperkirakan dapat tersebar antara babi dan burung serta manusia pada saat virus berevolusi.

Tim ilmuwan internasional yang melakukan penelitian DNA di Kebun Zoologi Wuppertal, Jerman, terkejut atas temuan penyakit misterius pada beruang itu.

Dua beruang terkena infeksi otak encephalitis dan mengalami kejang.

Beruang betina, Jerka, 20 tahun, meninggal setelah sakit selama seminggu.

Misi konservasi

"Virus ini tidak mengenal batas dan kami tidak tahu pasti apakah memang ada batas penularan."

Prof Klaus Osterrieder

"Virus ini tidak mengenal batas dan kami tidak tahu pasti apakah memang ada batas penularan," kata Prof Klaus Osterrieder dari Universitas Freie di Berlin.

Beruang kutub lain -Lars yang berusia 16 tahun- sakit selama beberapa minggu namun kemudian sembuh.

Tim yang dilakukan oleh Institut Leibniz untuk Penelitian Satwa Liar dan Kebun Binatang (IZW) di Berlin meneliti DNA dan RNA dari sampel otak beruang yang mati untuk menemukan bagaimana virus itu menyebabkan penyakit pada binatang itu.

Penelitian terhadap sembilan beruang kutub di kebun binatang-kebun binatang di Jerman menemukan infeksi pada Lars, Jerka, dan beruang lain Struppo, yang tidak pernah kontak dengan beruang di Wuppertal itu.

Profesor Alex Greenwood dari IZW mengatakan kepada BBC News, "Salah satu misi kebun binatang adalah konservasi binatang dan virus yang dapat melompat spesies seperti ini menunjukkan misi itu akan terancam."

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.