Tawaran tiket gratis Cina-Jepang dihentikan

Terbaru  19 Oktober 2012 - 20:58 WIB
Spring Airline

Spring Airline menghadapi penurunan tajam jumlah penumpang ke Jepang.

Sebuah maskapai penerbangan murah Cina menghentikan penjualan tiket gratis ke Jepang karena dianggap tidak patriotik.

Penjualan tiket dengan harga yang sangat murah itu berlangsung ditengah-tengah meningkatnya ketegangan hubungan Cina dan Jepang sehubungan dengan sengketa kepemilikan kepulauan di Laut Cina Timur.

Spring Airline menawarkan tiket gratis pergi pulang dari bandara Pudong di Shanghai ke Saga di dekat kota Fukuoka. Penumpang hanya perlu membayar pajak dan biaya tambahan sebesar 1.030 yuan atau sekitar Rp1,6 juta.

Upaya dilakukan untuk meningkatkan kembali penerbangan antara kedua negara, yang menurun tajam setelah meningkatnya ketegangan diplomatik, yang sempat memicu rangkaian aksi unjuk rasa anti-Jepang di beberapa kota Cina.

"Kami membatalkan tawaran itu tadi malam, setelah mempertimbangkan perasaan warga komunitas internet."

Zhang Wuan

Namun rupanya langkah itu mendapat kecaman, dengan tuduhan Spring Airline adalah pengkhianat, melukai perasaan rakyat Cina, maupun merusak citra Cina.

Beberapa pemilik blog internet bahkan menyerukan boikot atas Spring Airline, yang merupakan maskapai penerbangan swasta terbesar di Cina.

Jumlah penumpang menurun

Dua hari setelah diluncurkan, program promosi tiket khusus dihentikan oleh Spring Airline.

"Kami membatalkan tawaran itu tadi malam, setelah mempertimbangkan perasaan warga komunitas internet," kata juru bicara Spring Airline, Zhang Wuan, kepada kantor berita Reuters.

Selain trayek Shanghai-Saha, mereka juga membatalkan tawaran tiket gratis untuk penerbangan Shanghai-Kagawa.

Tidak ada rincian berapa banyak warga Cina yang tertarik pada tawaran itu dan sempat memesannya.

Jumlah warga Cina yang bepergian ke Jepang memang menurun tajam sejalan dengan ketegangan antara pemerintah Beijing dan Tokyo.

Ketegangan berawal dari keputusan pemerintah Jepang untuk membeli Kepulauan Senkaku dari kepemilikan pribadi warganya yang secara tradisi memilikinya.

Langkah itu diprotes Cina karena menganggap Kepulauan yang mereka sebut Diaoyu masuk dalam teritorinya.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.