Ekspor Jepang terganggu sengketa kepulauan

Terbaru  21 November 2012 - 16:19 WIB
Protes anti-Jepang

Protes anti-Jepang terjadi di Shenzhen dan beberapa kota di Cina terjadi September lalu.

Ekspor Jepang turun terus selama lima bulan berturut-turut akibat melemahnya permintaan dari Cina akibat sengketa kepemilikan wilayah.

Secara keseluruhan, ekspor bulan Oktober turun 6,5% bulan Oktober dibandingkan satu tahun sebelumnya.

Pengiriman barang ke Cina turun 11,6% sementara ke Uni Eropa juga anjlok sebesar sebesar 20%.

Sengketa teritorial dengan Cina menganggu ekspor ke mitra dagang Jepang terbesar itu sementara pengapalan ke Uni Eropa terhambat krisis utang di kawasan tersebut.

Perekonomian Jepang sangat tergantung pada ekspor dan melemahnya perekonomian dunia sangat mengganggu pertumbuhan ekonominya.

Para pengamat mengatakan ekspor Jepang akan terus melemah dalam bulan-bulan mendatang karena tidak jelasnya kondisi perekonomian dunia.

"Kondisi ini merupakan sesuatu yang akan menjadi kondisi normal yang harus kami hadapi sampai tahun depan," kata Martin Schulz dari Institut Penelitian Fujitsu kepada BBC.

Data itu muncul beberapa minggu setelah Jepang melaporkan pertumbuhan perekonomian menurun pada periode Juli sampai September.

Dampak Cina

"Ekspor ke Cina tidak akan lagi seperti semula karena boikot produk-produk Jepang terkait sengketa teritorial."

Takeshi Minami

Cina adalah negara dengan perekomomian terbesar kedua di dunia dan memiliki pasar domestik besar yang menjadi andalan eksportir dunia dan regional.

Permintaan dari konsumen Cina merupakan hal penting bagi sejumlah negara seperti Jepang, khususnya di tengah melambatnya perekonomian negara-negara Barat.

Namun hubungan Cina dan Jepang terganggu sengketa teritorial yang kembali pecah September lalu.

Konflik ini muncul setelah Jepang membeli kepulauan yang dipersengketakan di Laut Cina Timur - yang ikenal sebagai Senkaku di Jepang dan Diaoyu di Cina.

Langkah Jepang itu menyebabkan protes anti-Tokyo di Cina yang sempat memicu kekerasan dengan sasaran produk-produk Jepang.

Para analis mengatakan sengketa itu kemungkinan akan berlanjut dan merusak hubungan dagang kedua negara.

"Ekspor ke Cina tidak akan lagi seperti semula karena boikot produk-produk Jepang terkait sengketa teritorial," kata Takeshi Minami, ekonom dari Institut Penelitian Norinchukin di Tokyo.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.