Rumah 'tengah jalan' Cina, akhirnya dihancurkan

Terbaru  2 Desember 2012 - 14:03 WIB
Rumah tengah jalan, Cina

Rumah ini menjadi penanda maraknya kasus proyek infrstruktur yang dipaksakan di Cina.

Sebuah rumah lima lantai yang menjadi pusat perhatian media karena berada di tengah jalan yang sedang dibangun di Cina sepanjang setahun terakhir akhirnya diratakan dengan tanah.

Jalan yang sedang dibangun di Provinsi Zhejiang di timur Cina itu, dibangun di keliling rumah karena si pemilik, Luo Baogen, menolak ganti rugi yang dianggapnya terlalu sedikit.

Luo, 67 tahun dan berprofesi sebagai peternak bebek, baru saja membangun rumahnya dengan dana US$95.000 (lebih dari Rp911 juta) tetapi hanya ditawari ganti rugi sebesar US$35.000 (Rp 336 juta).

Menurut pejabat setempat, laki-laki itu akhirnya menyerah setelah diwari uang kompensasi US$41.000 (Rp393 juta), lalu kendaraan perata tanah (bulldozer) pun bergerak menghancurkan rumahnya.

'Capek'

Rumah antik itu disebut media negeri Tirai Bambu itu dengan julukan "rumah paku" karena diibatkan sebagai paku yang kukuh dan keras, susah dipindahkan.

Menurut pejabat resmi Cina seperti dikutip kantor berita Xinhua, petani Luo dan istrinya akhirnya menerima tawaran kompensasi yang baru dan mengurus kepindahan ke tempat relokasi dari rumah itu pada Sabtu (1/12) pagi dengan bantuan sejumlah kerabat.

Xinhua menulis situasi kepindahan itu "aneh" dan "heboh" karena gambar-gambar tentang rumah itu diposting di internet.

Menurut kantor berita itu Pak tua Luo mengatakan: "Memang tidak pernah jadi niat kami untuk tinggal selamanya di rumah di tengah jalan begitu. Setelah mendengar penjelasan pemerintah, saya akhirnya memutuskan untuk pindah."

Kepala desa Xiayangzhang, Chen Xuecai, kepada kantor berita Associated Press mengatakan Luo sudah capek mendapat sorotan media karena lelaki tua itu terpaksa harus "menerima belasan orang dari media setiap hari".

Cina sangat giat membangun infrastruktur dan jalan yang dipersoalkan ini merupakan salah satu proyek kunci yang menghubungkan kota dengan sebuah stasiun kereta api baru yang terletak di daerah pinggiran.

Luo adalah satu-satunya warga dari 459 pemilik rumah lainnya, yang menolak tawaran kompensasi untuk pindah demi proyek jalan ini.

Kasus ini juga menjadi penegasan tentang maraknya proyek pemerintah yang dibangun dengan memaksa warga menyerahkan tanah atau aset mereka sehingga menyebabkan munculnya kasus kerusuhan di Cina. Ribuan proyek infrastruktur dan pengembangan wilayah hunian telah menyebabkan munculnya ribuan kasus relokasi.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.