Keajaiban hujan dalam dunia musik

Partitur lagu karya Jubing Kristianto
Image caption Dalam lima tahun, gitaris Jubing sudah menulis empat komposisi lagu bertema hujan.

Fenomena alam adalah sumber inspirasi yang tak pernah habis dalam ekspresi seni, namun hujan punya tempat yang istimewa dalam dunia musik.

Setidaknya ratusan lagu diciptakan menggunakan fenomena jatuhnya titik air dari langit ke tanah ini sebagai analogi, metafor atau lukisan kejadian hujan sesungguhnya.

Beatles menulis Rain yang dimuat dalam rilis single Paperback Writer tahun 1966. Tiga tahun kemudian BJ Thomas menyenandungkan Raindrops Keep Falling on My Head untuk film Butch Cassidy and the Sundance Kid. Lagu itu menyabet Oscar untuk soundtrack film terbaik tahun 1969. Lagu ikonik ini selanjutnya silih berganti ditampilkan dalam serial anak-anak Sesame Street, film kartun The Simpson, dan juga film Forrest Gump.

Band rock legendaris asal Inggris, Led Zeppelin juga menulis lagu balada cinta berhias hujan (The Rain Song, 1972), the Weathers Girls bersorak menerima limpahan hujan laki-laki dalam It's Raining Men (1982) yang kelak kemudian dinyanyikan ulang sejumlah penyanyi lain dan masih kerap dipakai sebagai penyemangat goyangan di lantai disko.

Genre RnB di Indonesia menjadi makin populer awal tahun '90an saat Peabo Bryson mengantar Can You Stop the Rain (1991), dan kemudian Stevie Wonder membawakan Rain Your Love Down ( 1995).

Milli Vanilli menggegerkan Indonesia (dan seisi dunia) saat hits Blame It on The Rain (1986) ternyata cuma hasil sulap nyanyian bibir alias lip sync bukan benar-benar suara duo penyanyinya.

Blind Melon merilis No Rain (1992) dan dibanding rekamannya, mungkin lagu ini justru lebih dikneal karena video musiknya, apalagi saat itu Indonesia memang sedang demam klip video di televisi. Pada tahun yang sama Axl Rose dari Guns N Roses juga menjadi bintang video klip yang kondang di seluruh dunia karena single November Rain, diiringi orkestrasi menggugah lengkap dengan suara petir dan hujan deras, dan hingga kini masih sering diputar di radio tiap bulan November tiba.

Adapun Crying in the Rain mulanya dipopulerkan oleh The Everly Brothers tahun 1962 dan kemudian trio Norwegia, A-ha merekam ulang lagu itu tahun 1989. Kedua versi ini sukses melejit jadi hits.

Ada tangisan dalam hujan, maka ada pula nyanyian di tengah curahan airnya. Gene Kelly menyanyikan Singing in The Rain untuk sebuah musikal komedi tahun 1952, dan karya ini hingga kini dianggap sebagai salah satu karya musikal terbaik.

Pendek kata ada ratusan, mungkin ribuan, lagu yang menggunakan 'hujan' sebagai tema, sebagai judul, atau bagian dari lirik lagunya.

Komedi, ceria, cengeng

Dalam khazanah musik Indonesia hujan juga menjadi sumber inspirasi lintas genre dan bahasa, juga untuk beragam umur.

Hujan misalnya menjadi pengantar untuk lirik lagu Benyamin Sueb Hujan Gerimis, dinyanyikan duet dengan pasangan legendarisnya, Ida Royani, dalam balutan pantun betawi yang kocak.

Hujan juga elok diajarkan pada anak sebagai sarana belajar ilmu alam sambil bermain. Kalimat sederhana dan irama yang ceria mengantarkan Tik Tik Bunyi Hujan karya Ibu Soed, menjadi salah satu lagu anaknya paling terkenal dan abadi. Maestro lagu anak AT Mahmud menciptakan dua lagu bertema hujan sekaligus, Hujan Rintik-rintik dan Hujan Dimana-mana.

Saat bertemu langsung dengannya tahun 2008, almarhum Pak Mahmud yang meninggal tahun 2010 mengatakan lirik Hujan Dimana-mana sebenarnya ditulis karena mantan kepala sekolah TK ini sedang kesal.

"Hujan lagi, hujan lagi, tidak ada berhentinya, saya kesal juga," katanya dengan bersemangat meski saat itu fisiknya mulai mundur akibat stroke.

Dalam album Libur T'lah Tiba (2000), penyanyi cilik (saat itu) Tasya dengan centil-ceria membawakan lagu ini dengan iringan orkes megah pimpinan Dian HP. Hasilnya sebuah lagu anak yang sangat menawan.

Ditangan penulis lagu khas lirik yang melarat-larat Obbie Messakh, hujan bahkan menjadi salah satu penanda penting era industri musik Indonesia: era lagu cengeng tahun '80an.

Meski banyak dicibir, lagu Antara Benci dan Rindu yang dibawakan Ratih Purwasih (1986) laris dinyanyikan di kafe dan karaoke. Tak mustahil mungkin kelak nasibnya secemerlang Kisah Kasih di Sekolah (juga karya emas Obbie), yang langsung naik kelas begitu ditutur ulang almarhum Chrisye.

Generasi pemusik yang lebih muda rupanya juga keranjingan pada hujan.

Band beraliran alternative metal, Koil, sudah merekam Lagu Hujan tahun 1996. So7 yang setia di jalur pop memasukkan lagu Hujan Turun dalam album terakhirnya, sementara lagu Mesin Penenun Hujan membawa berkah bagi penulisnya yang asli Yogyakarta, Frau, meraih penghargaan dalam kategori tokoh seni majalah Tempo 2010.

Lagu hujan paling populer saat ini, barangkali, masih dipegang oleh Efek Rumah Kaca yang menulis dua lagu bernada hujan; Desember (2007) dan Hujan Jangan Marah (2008).

Seorang penulis blog di internet mengatakan Desember adalah 'perpaduan mantap...antara musik minimalis yang begitu menawan dan syair lagu yang sangat dalam'.

Romantis lagi ajaib

"Hujan itu berkesan Romantis. Manis untuk melukiskan percintaan," kata sineas Mira Lesmana saat diwawancarai untuk rubrik Info Musika BBC Indonesia.

Mira yang menulis lirik Rainy Days and You untuk band Karimata tahun 1990, mengaku memang penggemar hujan.

Image caption Desember dan Hujan Jangan Marah dari Efek Rumah Kaca sangat disukai penikmat musik.

"Asal enggak banjir aja," tambahnya terbahak.

Mira yang sudah sangat berpengalaman menulis lirik pada awalnya mengaku tak yakin bisa menuliskan lagu untuk vokalis sekaliber Phil Perry, yang membawakan lagu ini.

Tetapi begitu diberitahu penyanyi berbadan subur itu sangat menyukai lagunya, Mira berbunga-bunga.

"Saya diundang ikut lihat rekamannya, terus waktu dengar hasil rekamannya, wah mau pingsan deh," tambah Mira yang kini mengaku tak sering punya waktu menulis lirik lagu.

Rainy Days and You yang bercerita tentang hujan dan kenangan tentang bekas kekasih, juga bukan lagu kacangan. Dikemas dalam album Jezz tahun 1991, lagu ini menjadi salah satu puncak pencapaian artistik Karimata sebagai grup. Band beraliran jazz itu sukses memboyong Phil Perry, Lee Ritenour dan Don Grusin dari label tersohor Grusin Rosen Production (GRP) asal AS, prestasi yang cukup langka saat itu.

Image caption Mengaku penyuka hujan, Jubing memandang fenomena alam itu sebagai keajaiban.

Hujan juga menggugah imajinasi dalam instrumen.

Gitaris Jubing Kristianto memuat inspirasi hujan dengan lagu Morning Rain dalam Album pertamanya Becak Fantasy (2007).

Dalam album berikutnya, Hujan Fantasy (2008), Jubing menutur ulang intepretasi Tik-tik Bunyi Hujan karya Ibu Soed. Album yang sama juga memperdengarkan Once Upon a Rainy Day, yang menurut si empunya lagu 'slow dan sentimental untuk mengenang hari kala hujan'.

Rupanya belum puas bermain hujan, dalam album terbarunya (Kaki Langit, 2011), Jubing menulis pula Wangi Hujan.

"(Lagu itu) menciptakan suasana hujan yang baru turun membasahi tanah yg kering. Baunya sangat khas. Bau itu salah satu yg tertanam kuat dalam kenangan masa kecil ketika air hujan membasahi jalanan di depan rumah," tulis Jubing dalam pesan melalui Facebook untuk Info Musika BBC.

"Hujan menyiratkan keajaiban, air kok bisa jatuh dari langit."