Hong Kong kesulitan atasi sampah makanan

Pasar basah Hong Kong
Image caption Pasar di Hong Kong adalah salah satu penyumbang sampah bahan makanan terbesar.

Hong Kong membuang sekitar 3.600 ton bahan makanan per hari sepanjang tahun lalu.

Angka ini merupakan 11% kenaikan dari statistik yang sama tahun sebelumnya, sementara Hong Kong juga menjadi jauh lebih banyak menyampah bahan makanan ketimbang beberapa kota di negara tetangganya.

Menurut kelompok pecinta lingkungan Friends of the Earth, tiap warga Hong Kong membuang setengah kilo makanan setiap hari, sementara warga Singapura membuang 0,36 kg, warga Taiwan 0,35 kg dan warga Seoul 0,29 kg bahan makanan tiap harinya.

Friends of the Earth meluncurkan kampanye mendorong warga Hong Kong untuk mengurangi sedikitnya dua jenis menu makanan dalam tradisi jamuan untuk menandai peringatan pernikahan, transaksi bisnis penting serta kesempatan khusus lainnya. Dalam tradisi jamuan makan ala Hong Kong menu bisa dinikmati sampai 12 kali makan.

Sekitar dua per tiga sampah bahan makanan di Hong Kong berasal dari buangan rumah tangga, dan sisanya dari supermarket, toko bahan pangan, restoran, hotel dan Sekolah di kota itu. Jumlah sampah makanan dari kategori kedua ini terus meningkat dengan pesat.

Upaya untuk membujuk warga dan pihak swasta melakukan daur ulang makanan sulit dan jarang dilakukan.

Sebagian besar warga tinggal di apartemen tinggi, sehingga tak ada lahan untuk membuat kompos sementara pemerintah kota juga tak memiliki prasarana untuk daur ulang bahan makanan yang memadai.

Persoalan sampah, makanan atau bukan, juga menjadi isu gsnting saat ini karena tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Hong Kong sudah sangat sesak. Tiga TPA yang kini menjadi terminal barang buangan diperkirakan harus sudah ditutup 2018.

Sumber: Friends of the Earth

Upaya baru

Dalam rangka mengurangi besarnya limbah bahan makanan, organisasi amal, badan usaha dan ilmuwan mencoba sejumlah pendekatan baru.

Belasan organisasi swasta teregrak menggelar kegiatan daur ulang bahan makanan di Pasar Basah Tai Wo, di jantung Hong Kong.

Sementara ilmuwan mewarkan bioteknologi sebagai jawaban, kata Carol Lin, seorang peneliti di Universitas Kota Hong Kong.

Lin adalah pionir dalam teknik mengubah aneka bahan makanan buangan menjadi asam succinic, zat kimia yang umum dipakai dalam pembuatan plastik, kain dan bahan berserat lain.

"Kami yakin proses ini menguntungkan, meski tergantung pada besar skalanya," kata Lin.

Tetapi belum ada pihak yang bersedia menanam investasi senilai 19 juta dollar Hong Kong (sekitar Rp24 miliar) untuk membangun pabrik pengolahan zat kimia ini, belum lagi ditambah penyediaan lahan yang sangat mahal.

Pemerintah kota juga berniat mencoba cara yang pernah sukses diterapkan di Taipei tahun 2000, dengan mengenakan tambahan biaya pembuangan sampah bila warga membuang limbah melebihi ukuran kantong sampah yang telah ditentukan.

Cara ini dianggap manjur di Taiwan sehingga volume buangan sampah diklaim turun drastis 62% .

Meski demikian tak ada jaminan cara ini akan sukses pula diterapkan di Hong Kong karena menurut survey yang digelar Friends of the Earth pada November lalu 65% warga bersedia membayar tarif sampah lebih tinggi 52% dari tarif berlaku sebelumnya.