Penelitian kontroversial flu burung dilanjutkan

  • 24 Januari 2013
flu burung

Riset kontroversial untuk mencari cara penyebaran mudah flu burung pada manusia berlanjut setelah terhenti satu tahun.

Beberapa pihak menyatakan riset ini penting untuk memahami bagaimana virus menyebar dan apa yang bisa digunakan untuk mencegah pandemi maut ini membunuh jutaan orang.

Riset dihentikan setelah perdebatan sengit termasuk kekhawatiran mengenai virus buatan lolos dari laboratorium atau digunakan untuk terorisme.

Moratorium memberikan pihak berwenang waktu untuk mempelajari keamanan studi ini.

Satu tipe flu burung yang dikenal dengan H5N1 sangat mematikan dan telah membunuh separuh orang yang tertular.

Virus ini belum menyebabkan jutaan kematian di seluruh dunia karena ia tidak memiliki kemampuan untuk menyebar dari satu orang ke orang lain. Kasus-kasus penularan selama ini kebanyakan terjadi akibat kontak dengan unggas yang sakit.

Para ilmuan di Universitas Erasmus di Belanda dan Universitas Wisconsin-Madison di AS menemukan hanya butuh lima hingga sembilan mutasi di kode genetis virus untuk dapat menjadikannya pandemi mematikan.

Sains berbahaya?

Image caption Virus buatan dikhawatirkan akan 'lolos' dari laboratorium

Riset mereka adalah awal dari pertengkaran panjang antara ilmuan, pemerintah dan penerbit riset sains.

Badan Penasihat Sains Nasional AS untuk Keamanan Biologi meminta jurnal-jurnal akademi agar tidak menerbitkan bagian-bagian kunci penelitian karena mereka khawatir teroris akan menggunakan detail tersebut untuk membuat senjata biologi.

Hal ini memicu kemarahan di kalangan ilmuan yang mengatakan kebebasan akademi mereka dibatasi.

Ilmuan lain mengatakan risiko virus itu menyebar terlalu besar dan riset itu seharusnya tidak dilakukan.

Detail dari penelitian itu pada akhirnya diterbitkan di jurnal Nature and Science.

Namun para akademisi yang terlibat sepakat untuk melakukan moratorium riset suka rela selama 60 hari yang kemudian diperpanjang menjadi satu tahun.

Jeda itu untuk memberi pemerintah waktu membahas standar-standar keamanan yang dibutuhkan di laboratorium untuk melakukan riset dengan virus buatan dan apakah mereka akan mendanai riset tersebut.

Kembali dilanjutkan

Sebuah surat yang ditandatangani 40 peneliti virus dari seluruh dunia, diterbitkan di jurnal Science and Nature, mengatakan moratorium itu telah dicabut.

Surat itu mengatakan kondisi-kondisi layak telah disiapkan di sebagian besar kawasan dunia dan studi mereka "penting untuk persiapan pandemi."

Salah satu pembela riset Prof Ron Fouchier, dari Erasmus Medical Centre, mengatakan pada BBC bahwa tertundanya penelitian selama satu tahun membuat "frustrasi."

"Riset ini penting, dan saat kita berhenti meneliti virus flu burung terus bermutasi di alam dan kita harus melanjutkan riset ini.

"Kita tidak bisa menunggu satu tahun atau dua tahun lagi."

Ia berharap dapat memulai kembali pekerjaan laboratorium dalam waktu dua minggu.

Prof Robert May dari Universitas Oxford dan mantan presiden Royal Society mengatakan, "Mereka bukan orang jahat, mereka adalah orang baik dengan niat baik, tapi mereka memandang keamanan laboratorium melalui kacamata ilusi."

Ia mengatakan sejarah menunjukkan bahwa "virus akan lolos" karena sudah ada lebih dari seribu kasus tertularnya orang di lab dengan standar keamanan tertinggi dan wabah flu 1997 kemungkinan besar terkait dengan lab Rusia.

"Itulah kenapa saya merasa dunia akan lebih aman jika kita mempertahankan moratorium ini."

Berita terkait