Ngaso 'selow' bersama Payung Teduh

Payung Teduh
Image caption Masing-masing personel punya pekerjaan tetap diluar band dan berkeras mempertahankannya.

Dalam dua tahun sejak album pertama direkam, kuartet Payung Teduh makin banyak dikenal dan bahkan menggondol dua penghargaan bergengsi di panggung musik Indonesia.

Empat sekawan dari Depok ini, Mohammad Istiqamah Djamad, Comi Aziz Kariko, Ivan Penwyn dan Alejandro Saksakame, menyajikan adonan dari bebunyian hasil permainan akustik mereka ditambah vokal Is yang bertenaga namun tanpa raungan.

"Musik kami ini musik suasana, kami main musik layaknya ngobrol saja dengan pendengar," kata Is santai saat bicara untuk program mingguan Infomusika BBCIndonesia.

Seperti juga pemusik muka baru lain, Payung Teduh memanfaatkan situs video gratis Youtube dan jejaring sosial Facebook untuk memperkenalkan diri dan merangkul pendengar.

Beberapa nomor populer mendapat respon sangat positif pendengar, yang rata-rata menandai kelompok ini sebagai 'pabrik musik adem' seperti dituliskan seorang pengguna Youtube.

"Kalau ada feel adem, dingin, woles, itu karena memang kami maunya jadi teman istirahat. Jakarta sudah hiruk-pikuk begini, kami berharap pendengar bisa santai sejenak," tambah Is.

Woles alias selow (dari kata slow), adalah bahasa terbaru untuk istilah lambat. Payung Teduh, menurut Is, sama sekali tak keberatan dengan cap semacam ini.

"Wong kami juga bisanya baru main sekualitas ini, maunya sih main musik canggih tapi belum bisa," tambahnya sambil tertawa lepas.

'Latihan di panggung'

Penggemar memadati pertunjukan mereka yang sering kali hanya dilangsungkan pada acara-acara akhir pekan karena personel Payung Teduh memilih tetap menekuni pekerjaan utama mereka, dari dosen hingga desain grafis.

Comi, pemain kontrabas, lulusan program magister dari Universitas Indonesia dan mengajar mata kuliah Bahasa Inggris di almamaternya di Universitas Bina Nusantara.

Cito alias Alejandro Saksame yang memukul drum adalah desainer grafis yang cukup serius dan tiap minggu sibuk menekuni profesinya. Cuma Ivan (memetik gitalele) menurut Is 'masih bebas' karena sedang menyelesaikan kuliah.

Image caption Album Dunia Batas (2012) adalah yang kedua dirilis, setelah Payung Teduh (2010).

Is sendiri selain kebagian jadi vokalis dan pemain gitar, juga mengajar musik, teater, tari dan macam-macam lainnya, yang justru makin tinggi tingkat kesibukanya di akhir pekan.

Untuk wawancara dengan BBC, Is dan Comi harus dihubungi terpisah, saking sulitnya mencari waktu ketemu.

"Buat kami kerja itu utama, musik itu hobi, ungkapan jiwa. Kami butuh kerjaan karena Payung Teduh bukan buat cari uang, itu buat main musik saja," kata Is serius.

Akibatnya, jam latihan nyaris tak ada. Tak masalah juga kata Comi.

"Sering kita latihan di back stage, pas mau manggung. Terus ya manggung aja," kata Comi enteng.

Repertoir seperti Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan dan Menuju Senja (album Dunia Batas, 2012) menurut Comi dipanggungkan dengan cara seperti ini.

"Saya tahunya pas lagi di belakang panggung, Is bilang nanti main ini ya, chord-nya begini, latihan sebentar/ Terus ya udah ayo-ayo manggung."

Periode latihan intensif menurut Comi sudah mereka lewati saat baru terbentuk antara 2007 sampai menjelang album Payung Teduh bernama kelompok mereka sendiri dirilis 2010. Karena itu, tanpa latihan pun, awak grup tak pernah melakukan kesalahan fatal di panggung.

Mirip SORE

Image caption Empat sekawan ini bertemu dari arena Teater Pagupon Fakultas Sastra, UI.

Pujian tinggi dialamatkan pada Is dan kawan-kawan dalam waktu singkat.

Musik mereka yang terdengar akustik totok dengan aura keroncong berbumbu jazz, tidak sederhana tetapi nyaman di telinga, rupanya disambut sebagai selingan menyegarkan dari industri arus utama musik Indonesia yang masih demam KPop dan pop Melayu.

Pengamat musik Denny Sakrie terutama menyorot fungsi lirik yang dinilainya istimewa dari payung Teduh.

"Seperti mengembalikan lirik pada perannya dalam lagu yang sempat kita nikmati pada masa-masa Ismail Marzuki dulu," puji salah satu juri penghargaan seni majalah Tempo ini.

Pujian ini antara lain mengantar Dunia Batas jadi album terbaik pilihan Tempo tahun lalu.

Sebelumnya Payung Teduh juga menggondol gelar terhormat jadi grup pendatang baru terbaik versi Majalah musik Rolling Stone Indonesia.

Ada pula yang melihat kemiripan gaya payung Teduh, di musik maupun lirik, dengan SORE yang sudah lebih dulu eksis di ranah musik alternatif Indonesia. Salah satu produser album Dunia Batas memang Ramondo Gascaro dari SORE.

Is cs sendiri pilih merendah.

"Kami berterimakasih kalau ada yang bilang begitu. Kalau kumpul-kumpul kami memang dengar musik mereka, masih belajar supaya bisa sebagus mereka."

Info Musika adalah program BBC Indonesia yang mengupas berbagai sisi tentang musik dan disiarkan tiap Jumat petang WIB.

Berita terkait