Pria yang menghancurkan rumah Shakespeare

shakespeare
Image caption Shakespeare lahir pada 1564 di rumah ini

New Place, Stratford-upon-Avon. Rumah terakhir William Shakespeare.

Rumah ini diyakini menjadi tempat sang pujangga menulis sejumlah karya besarnya seperti The Tempest; dan tempat ia meninggal dunia pada 1616, menurut Yayasan Shakespeare Birthplace Trust.

Bangunan ini memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat penting dan merupakan harta karun nasional.

Tetapi pandangan ini tidak disepakati oleh Francis Gastrell. Ia membeli rumah itu pada 1753 tapi ia merasa jengkel dengan banyaknya turis yang datang ingin melihat rumah tersebut, kata ahli sejarah arsitektur Gavin Stamp.

Gastrell juga disebut bersitegang dengan pejabat setempat karena masalah pajak.

Gastrell sebelumnya sudah mendapat cemoohan oleh warga setempat setelah ia menebang sebuah pohon mulberry yang ditanam oleh Shakespeare di kebun.

Kemudian saat kejengkelannya memuncak, ia menghancurkan seluruh rumah pada 1759 hingga tinggal hanya pondasinya tersisa.

Warga Statford-upon-Avon sangat marah dan Gastrell menjadi orang yang amat tidak populer hingga ia terpaksa pindah ke kota lain, kata Stamp.

Rumah itu dibangun kembali pada 1880 oleh pemerintah Inggris.

Pelestarian warisan budaya

Namun ia bukan satu-satunya pemiilk properti yang membenci turis.

"Pada 1808 Lady Howe menghancurkan villa milik Alexander Pope di Twickenham karena alasan serupa," kata Stamp. "Tindakan itu disebut menjijikkan oleh pelukis Turner yang tinggal di dekat villa tersebut.

"Ada contoh-contoh yang mengagetkan dalam sejarah mengenai bangunan-bangunan yang dihancurkan oleh pemiliknya karena menarik minat orang lain atau karena bangunan itu memiliki kepentingan nasional.

"Orang seperti Gastrell bisa melakukan apa saja yang mereka sukai, pemerintah saat itu tidak punya kekuasaan untuk menghentikan mereka. Orang percaya bahwa mereka memang memiliki hak absolut untuk menghancurkan properti milik mereka."

Ide bahwa negara bisa menghentikan seseorang melakukan apa saja pada properti milik pribadi dinilai konyol saat itu.

Bahwa warisan budaya Inggris layak dilestarikan adalah keyakinan sedikit orang radikal saja, kata ahli sejarah.

Tetapi setelah puluhan tahun menyaksikan bangunan-bangunan bersejarah hancur, masyarakat dan pemerintah bertekad melakukan sesuatu.

Tindakan yang dipelopori oleh John Lubbock, wakil rakyat dari Orpington di Kent, menjadi awal legislasi Undang Undang Monumen Kuno, yang memastikan warisan budaya Inggris harus dilestarikan

Berita terkait