Museum ABBA dibuka bulan Mei

Koleksi museum ABBA
Image caption Uniknya, kurator museum ini adalah mantan penata gaya ABBA sungguhan.

Bulan Mei tahun ini museum yang memamerkan seluruh barang kenangan yang menggambarkan masa kejayaan grup band legendaris asal Swedia, ABBA, akan mulai dibuka.

Pertunjukan utama di museum itu nantinya adalah menyediakan panggung untuk lima orang, empat bagi personel asli ABBA dan satu pengunjung.

"Kita memasuki arena dimana nanti tiap pengunjung dapat merasakan untuk sesaat bagaimana rasanya menjadi anggota kelima ABBA," kata direktur pelaksana museum ini, Mattias Hansson, seperti diceritakan wartawan BBC Maddy Savage yang mengunjungi lokasi museum di Pulau Djurgarden arah selatan ibukota Stockholm.

Para penggemar juga dapat melihat penampilan panggung tersebut secara langsung di internet kemudian mengunggahnya ke situs sosial media yang mereka pakai untuk dipamerkan pada teman atau kerabat.

Secara virtual busana-busana panggung khas ABBA yang gemerlapan dan berpotongan lebar bisa dicoba dengan bantuan teknologi layar hijau.

Tetapi sampai hari ini, lokasi museum masih penuh suara bising pekerja dan teknisi yang menyiapkan pembangunannya.

"Dalam beberapa pekan lagi Anda sudah bisa melihat band tampil dalam bentuk hologram ukuran orang sungguhan dan Anda bisa ikut manggung menyanyi dan berdansa bersama mereka," janji Hansson.

'Artefak sebelum mati'

Image caption Tim Jonas Celsing Arkitektkontor di Swedia menggarap rancangan museum ini.

Abba telah menjual hampir 400 juta album di seluruh dunia sementara film yang menampilkan lagu-lagu hit-nya, berjudul Mamma Mia!, disebut sebagai film paling sukses sepanjang waktu. Hampir 50 juta orang menonton film itu.

Iklan gencar juga dibuat pemerintah setempat untuk menyambut berdirinya museum ini, termasuk dengan berbagai umbul-umbul dan televisi layar lebar untuk menarik para pendatang yang baru mendarat di bandar udara Arlanda.

Pemerintah setempat sudah lama punya rencana membangun museum tentang band yang digemari di seluruh dunia ini namun justru anggota ABBA sendiri yang ragu-ragu menerima ide itu.

Salah satu personel, Bjorn Ulvaeus, mengatakan ogah jadi 'artefak museum sebelum mati'.

Tapi kini museum ini didukung penuh personel ABBA, bahkan Ulvaeus memberikan arahan tiap hari kepada sekitar 50 staf yang menyiapkan sentuhan akhir bangunan ini.

Satu sentuhan lain yang cukup unik adalah keterlibatan Ingmarie Halling sebagai kurator museum ini, dimana sebelumnya ia adalah penata gaya bagi ABBA.

Berita terkait