Kritik atas Inferno karya Dan Brown

inferno
Image caption Novel Inferno telah beredar sejak 14 Mei

Novel terbaru Dan Brown, Inferno, telah beredar dan para kritikus menyebutnya enak dibaca tapi tidak akan memenangi penghargaan kesusasteraan apa pun.

Inferno adalah novel keempat dalam serial kriminal dengan tokoh seorang pakar simbol dari Universitas Harvard, Robert Langdon.

Alur cerita berkisah tentang petualangan Langdon yang berusaha menghentikan penyebaran virus berbahaya.

Cerita dimulai ketika Profesor Langdon terbangun di sebuah rumah sakit di Italia tanpa bisa mengingat mengapa ia berada di sana.

Ia bepergian ke kota Florence dan kota-kota lainnya untuk memecahkan kode dari satu bagian puisi karya penyair Italia Dante, Inferno.

"Cara kisah ini dituturkan sama dengan The Da Vinci Code yaitu hanya berkisar tentang pencarian panjang," tulis kritikus seni, AN Wilson, dari koran Daily Mail.

Dianggap paling buruk

Sedangkan Jake Kerridge dari Telegraph mengatakan Inferno adalah karya Dan Brown yang paling ambisius dan paling buruk.

"Saya merasa Brown ingin menulis buku yang lebih baik, buku yang erat dengan dunia nyata," kata Kerridge.

"Tapi pada akhirnya ini adalah bukunya yang terburuk dan yang menyedihkan adalah ambisinya melebihi kemampuannya."

Sementara Monica Hesse dari The Washington Post mengatakan Brown telah "menyempurnakan seni menulis bab yang menegangkan, penjahat yang menakutkan dan latar belakang sejarah."

Namun ia juga merasa bahwa penuturan cerita tertutup oleh rincian-rincian sejarah.

Sementara itu koran gratis Metro terbitan London mengatakan Inferno "aneh tapi bagus."

"Pemahaman Brown akan kata sifat tidak akan membuatnya meraih Pulitzer," kata Metro. "Tetapi meski alur ceritanya lucu, Brown menghormati sumber-sumbernya dan memberi Inferno kredibilitas sebagai karya yang bisa dinikmati."

Berita terkait