Kelangkaan serius tisu toilet di Venezuela

  • 23 Mei 2013
Kertas toilet
Image caption Kredit sebesar US$79 juta disetujui, antara lain untuk mengimpor tisu toilet.

Majelis Nasional Venezuela mendukung rencana untuk mengimpor 39 juta tisu gulung untuk toilet untuk mengatasi kelangkaan yang serius.

<span >Dukungan itu diwujudkan dengan menyetujui kredit sebesar US$79 juta atau sekitar Rp790 miliar kepada Kementrian Perdagangan untuk impor tisu toilet, odol gigi, dan sabun.

<span >Produk-produk itu kini sulit ditemui di toko-toko Venezuela, yang pendapatan utamanya berasal dari kekayaan minyaknya.

<span >Sebuah supermarket di ibukota Caracas, sampai mengumumkan lewat pengeras suara bahwa setiap orang hanya boleh membeli empat gulung tisu toilet.

<span >Seorang warga menyayangkan negaranya harus menghadapi masalah kekurangan kebutuhan dasar rumah tangga.

"Ini merupakan kebutuhan dasar yang setiap orang mestinya bisa membeli," tutur <span >Yenny Caballero kepada kantor berita Reuters.

<span >Pemerintah berpendapat bahwa kelangkaan tisu gulung toilet, seperti kelangkaan produk lainnya, disebabkan oleh kepanikan para pengguna dan juga karena pedagang yang menimbun barang untuk meningkatkan harga.

Namun pihak oposisi menyatakan penyebabnya adalah pengendalian <span >mata uang yang ketat serta proses nasionalisasi yang memperlemah dunia industri dan membuat pengusaha tiodak mau melakukan investasi.

Inflasi tertinggi

<span >Bagaimanapun Presiden Nicolas Maduro, yang<span > meraih kemenangan tipis dalam pemilihan umum bulan April<span >, tetap yakin bahwa kelangkaan barang-barang keperluan rumah tangga merupakan hasil dari konspirasi kelompok oposisi, yang berasal dari kelompok kaya rakyat Venezuela.

Maduro sudah beretkad untuk meneruskan kebijakan ekonomi mendiang presiden Hugo Chavez, antara lain nasionalisasi dan program jaminan sosial yang meluas.

Namun para pengamat berpendapat bahwa upaya pemerintah untuk menerapkan kendali negara atas perekonomian telah menyebabkan ketidakseimbangan yang pada akhirnye menimbulkan kelangkaan sejumlah produk.

<span >"Pengendalian harga, sebagai contoh, merupakan tindakan yang menghalangi produsen lokal dan memaksa mereka mengurangi produk," seperti dinyatakan lembaga survei, Consensus Economics.

<span >Venezuela menghadapi inflasi yang paling tinggi di kawasan Amerika Latin dengan tingkat sekitar 25%.

<span >Mata uangnya, Bolivar, sudah berulang lali mengalami devaluasi dalam beberapa tahun belakangan. Yang terakhir, nilainya dikuragi 32% pada Februari 2013.

<span >

Berita terkait