'Menarilah' bersama pematung Dolorosa

Image caption Dolorosa Sinaga membelakangi salah-satu karyanya: Sufi Dancer.

Pematung senior Dolorosa Sinaga menggelar pameran karya-karya terbarunya yang bertajuk 'Menarilah' atau Dance Your Life di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Dalam pameran tunggal yang berlangsung sampai 30 Juni 2013, seniman kelahiran 31 Oktober 1952 ini menampilkan karya-karya patungnya yang semua terbuat dari medium kertas timah atau aluminium foil.

Dibuka secara resmi oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, Jumat (14/06) malam, seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia Heyder Affan, Dolorosa kembali menampilkan patung-patung dengan bentuk figur perempuan.

"Tubuh, sejak lama telah menjadi inspirasi saya berkarya," kata Dolorosa Sinaga, seperti dia tuliskan dalam buku pengantar pamerannya.

"Karena, melalui tubuh saya dapat menyatakan banyak hal."

Pada pameran tunggalnya keenam ini, seniman patung lulusan St. Martin's School of Art, London, Inggris ini menyajikan tema Dance Your Life (menarilah).

"Bagi saya menari adalah suatu kegiatan yang menyenangkan, kegiatan yang dapat melepaskan seluruh kepenatan tubuh dan jiwa," jelas seniman (yang juga aktivis), yang sejumlah patung-patungnya telah dikoleksi di Vietnam, Malaysia Italia, Jepang, hingga AS.

Diakuinya, karya-karyanya yang membentuk "gestur-gestur penari" ini tidak terlepas dari kegusarannya terhadap persoalan sosial di Indonesia belakangan ini.

Melalui karyanya itu, Dolorosa mengaku menemukan ruang "yang membebaskan saya dari perasaan masgul dan gusar yang berkepanjangan tentang semua kejadian di negeri ini."

Medium aluminium foil

Menampilkan bentuk organik dari gestur seorang penari, karya-karya patung Dolorosa tidak dihadirkan dalam pendekatan realis, tetapi siapapun masih dapat melihat ekspresi dari penari.

Dan seperti karya-karya awalnya, staf pengajar di Fakultas Seni Rupa IKJ ini masih setia dengan bentuk-bentuk pipih.

Image caption Dalam pameran tunggal keenamnya, Dolorosa menggunakan medium aluminium foil -- yang lazim digunakan untuk membungkus makanan.

Namun yang membedakan, kali ini medium yang digunakannya adalah kertas timah (aluminium foil) -- yang lazim digunakan untuk pembungkus makanan.

Sebelumnya Dolorosa -- yang telah berkarya lebih dari 30 tahun -- lebih akrab dengan medium tanah liat, kertas, lilin dan perunggu.

Pada periode menggunakan aluminium foil ini, Dolorosa mengaku menemukan pengalaman yang "benar-benar sangat menyenangkan."

"Saya berusaha membebaskan semua ide, gagasan melalui bentuk-bentuk anatomi tubuh manusia, yang spontan, fun, menyenangkan, karena dikerjakan dengan medium yang mudah dikerjakan," akunya.

Lebih dari itu, menurutnya, menggunakan medium ini memiliki karakter yang spesifik yaitu "tekstur yang kaya" dan "dapat mendukung tenaga ekspresi karya".

Menurut Ruth Rahayu, aktivis perempuan dan peneliti, yang menulis kata pengantar dalam buku pameran, keputusan Dolorosa menggunakan medium kerja yang baru, bukanlah sekedar bahwa medium lainnya (yang pernah digelutinya) "tidak lagi menantang".

Tetapi, "Dolorosa memiliki konsep kerja berdasarkan medium yang tidak memberikan ruang emosionil penciptaan, seperti kertas atau materi tak bermassa lainnya," jelasnya.

"Pendisiplinan melalui medium tak bermassa ini meresap dan mengalir ke dalam darahnya, yang kemudian membuat tangannya seperti bernyawa ketika memegang sebuah medium apapun, " kata Ruth Rahayu, lebih lanjut.

Generasi keempat pematung

Dolorosa, menurut Ruth Rahayu, merupakan generasi keempat pematung (perempuan) modernis di Indonesia, sejak dihitung dari kehadiran dan pengaruh Ries Mulder dan Rita Widagdo -- pada dekade 1960-an di Fakultas Seni dan Desain ITB yang dibuka pada 1949.

Ketika Institut Kesenian Jakarta (dahulu Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta, LPKJ) didirikan pada 1970-an, pengajaran estetika patung dibuka di kampus itu, melalui figur Edith Ratna dan Hildawati.

Mereka saat itu memiliki empat orang murid perempuan, salah-satunya bernama Dolorosa Sinaga.

"Jadi, Dolorosa Sinaga merupakan angkatan pertama lulusan seni patung di LPKJ, suatu hal yang langka bagi seorang perempuan untuk memilih karier hidup menjadi pematung," kata Ruth Rahayu.

Namun demikian, lanjutnya, panggilan hidup sebagai pematung, bukan tanpa halangan dari orang tuanya. "Atas dasar alasan bahwa Dolorosa seorang perempuan," tulis Ruth.

Tetapi, pada saat dia keluar sebagai pemenang Lomba Utama Karya Seni Lukis dalam Lomba Seni Mahasiswa se-Jakarta, hati ayahnya pun luluh dan membiarkan anak perempuannya memenuhi panggilan hidupnya.

Berita terkait