Murid miskin India 'tak punya' pilihan

  • 21 Juli 2013
Siswa India
Image caption Sebagian siswa miskin Idnia hanya makan makanan lengkap saat di sekolah.

Kasus keracunan fatal yang makan korban 22 anak di India telah menggoyahkan kepercayaan jutaan anak dan orangtua setempat terhadap skema program makan siang gratis di sekolah terutama untuk siswa keluarga miskin, namun program ini tetap diyakini membanwa banyak manfaat.

Pengamat pendidikan setempat juga menyebut kecelakaan tersebut tak akan banyak mempengaruhi sikap siswa dan orangtuanya di India karena banyak di antara mereka yang tak punya pilihan kecuali makan makanan gratis itu di sekolah karena tak snaggup menyediakan makanan di rumah.

Dalam skema nasional tersebut 120 juta anak sekolah di India mendapat makan siang gartis setiap hari, sebagai imbalan karena orang tua mereka mengirim anaknya bersekolah.

Namun sejak kasus keracunan massal Selasa (16/07) lalu di sebuah sekolah dasar bagian timur negara bagian termiskin India di Bihar, serangkaian laporan menunjukkan sudah ratusan lagi murid dilarikan ke rumah sakit akibat gejala keracunan dan bahkan karena penemuan belatung dalam piring makanan mereka.

Puluhan ribu murid juga dilaporkan menolak memakan makanan mereka karena takut turut jadi korban.

Meski punya banyak kekuarangan, agenda makan siang ini menurut para pendidikan setempat masih berperan sangat penting dalam upaya membujuk orang tua agar mengirim anaknya belajar ke sekolah.

Selain meningkatkan taraf pendidikan, kampanye tersebut dianggap penting untuk mengatasi masalah gizi buruk serta kesenjangan antar anak akibat perbedaan kasta.

Sangat mengejutkan

Image caption Keluarga korban menyalahkan pengawasan pemerintah yang lemah dan respon yang lambat.

Sebuah survey pemerintah tahun lalu menemukan bahwa 42 persen anak balita India kurang berat badan.

Sementara sejumlah orang tua yang anaknya tewas dalam targedi lalu mengakui tujuan utama mengirim anaknya ke sekolah adalah agar mereka dapat makan.

"Kami tidak punya makanan di rumah dan mengirim anak sekolah adalah satu-satunya cara agar anak-anak sedikitnya mendapat makanan layak," kata Sanjudevi Mahatoshe, ibu tiga anak yang tewas dalam insiden keracunan itu seperti dikutip kantor berita AFP.

Pendukung program ini mengatakan skema makan siang gratis membawa banyak manfaat, termasuk menghapus batasan sosial antar anak dari berbagai kasta yang duduk bersama menikmati makan mereka.

"Pengaruhnya besar sekali, bukan cuma untuk angka bersekolah, tapi juga pada daya ingat mereka," tukas pengamat Ekonomi dari Delhi, Reetika Khera seperti ditulis AFP.

"Anak lebih miskin makin banyak yang pergi ke sekolah, karena skema makan siang ini."

Kampanye nasional ini mulai dipraktekkan pertama kali di negara bagian Tamil Nadu tahun 1982.

Meski demikian kekhawatiran terhadap longgarnya pengawasan membuat banyak pihak takut insiden lanjutan terus terjadi.

"Saya bisa terima ada kasus kecelakaan dimana-mana," kata pegiat Kampanye Hak untuk Makanan, Dipa Sinha.

"Tapi skala kejadian ini dan betapa cerobohnya pelaku, serta respon yang sangat asal-asalan ditambah perawatan korban yang tertunda, sangat mengejutkan."

Akibat kasus ini terjadi serangkain aksi protes terhadap pemerintah India yang dianggap lamban mencari penyebab dan memberikan pertolongan.

Penyelidikan laboratorium menyebut 22 anak tewas akibat asupan pestisida lima kali lebih tinggi dari kandungan maksimal yang dibolehkan dalam minyak goreng yang dipakai memasak makanan tersebut.

Berita terkait