Blackberry akan dijual US$4,7 miliar

blackberry
Image caption Blackberry diperkirakan merugi sehingga memaksa mereka memotong ribuan pekerja.

Produsen ponsel Blackberry setuju untuk menjual perusahaannya sebesar US$4,7 miliar atau sekitar Rp53,8 triliun kepada konsorsium yang dipimpin oleh Fairfax Financial.

Dalam sebuah pernyataan, Blackberry mengatakan Fairfax, yang saat ini menjadi pemegang saham terbesar mereka (menguasai 10% saham), telah menawar US$9 per saham dengan pembayaran tunai untuk membeli perusahaan tersebut.

Tetapi, Blackberry mengatakan mereka akan tetap mengeksplorasi pilihan lain ditengah berlangsungnya negosiasi.

Pada Jumat (20/09) kemarin, Blackberry telah mengumumkan untuk memotong 4.500 tenaga kerja karena kinerja keuangan yang merugi.

Perusahaan Kanada ini diprediksi akan merugi sekitar US$1 miliar setelah penjualan ponsel model barunya tidak sebagus yang diharapkan.

Niatan untuk menjual perusahaan sebelumnya memang sudah dikemukakan oleh Blackberry pada Agustus lalu.

Pada Senin (23/09), perusahaan mengumumkan bahwa mereka telah "menandatangani surat perjanjian di mana konsorsium yang dipimpin oleh Fairfax Financial Holdings Limited telah menawarkan untuk mengambil alih perusahaan".

Pernyataan itu melanjutkan: "Proses penilaian (due diligence) diharapkan akan selesai pada 4 November 2013. Pihak terkait akan bernegosiasi dan meresmikan transaksi definitif pada tanggal tersebut."

Buka opsi lain

Namun, Blackberry mengatakan, pembicaraan mereka kepada Fairfax tidaklah eksklusif, artinya Blackberry bisa secara aktif "mengumpulkan, menerima, mengevaluasi dan berpotensi" untuk masuk ke dalam negosiasi dengan pembeli potensial lainnya.

Pemimpin Fairfax, Prem Watsa, mengatakan: "Kami percaya transaksi ini akan membuka babak baru yang menarik bagi Blackberry, pelanggan, operator dan karyawannya.

Brian Colello, analis di Morningstar, mengatakan pembelian ini akan membuat Blackberry menjadi perusahaan tertutup, sehingga dapat memungkinkan perusahaan melakukan reorganisasi tanpa harus terus diamati oleh investor saham di Wall Street.

Dia mengatakan: "Berdasarkan prediksi penjualan perusahaan yang buruk, saya pikir kesepakatan ini memang harus terjadi cepat atau lambat. Ini mungkin saja menjadi satu-satunya cara bagi investor untuk keluar."

Sementara Ben Wood, Kepala Riset CCS Insight, mengatakan kesepakatan dengan Fairfax akan menyediakan ruang nafas bagi Blackberry untuk menilai opsi strategis mereka.

"Indikasi awal menunjukan harus ada penghematan dalam bisnis mereka. Perubahan struktural yang lebih luas seperti spin-off Blackberry Messenger dan mengurangi divisi perangkat keras juga mungkin akan ditinjau dengan hati-hati."

Masalah keuangan Blackberry dimulai awal tahun ini menyusul penjualan yang mengecewakan ponsel model baru Z10.

Dirilis pada bulan Januari -setelah banyak penundaan- ponsel ini dianggap gagal untuk menggairahkan kembali konsumen.

Berita terkait