Malala: Dialog dengan militan kunci perdamaian

  • 7 Oktober 2013
Malala
Foto Malala dipamerkan di Galeri Nasional Inggris

Malala Yousafzai yang ditembak di kepala oleh Taliban karena memperjuangkan hak pendidikan perempuan mengatakan dialog dengan militan penting untuk perdamaian.

Malala diserang di bus sekolah dekat rumahnya di Pakistan pada Oktober 2012.

Insiden itu memicu kemarahan di Pakistan dan di seluruh dunia.

Remaja berusia 16 tahun itu dirawat di Inggris dan kini tinggal di Birmingham.

Dalam wawancara pertamanya sejak serangan tersebut, Malala mengatakan kepada BBC bahwa diskusi dengan Taliban diperlukan untuk mencapai perdamaian.

"Jalan terbaik untuk memecahkan masalah dan mengakhiri perang adalah melalui dialog," kata Malala.

"Itu bukan isu bagi saya, itu adalah tugas pemerintah... dan tugas Amerika."

Malala mengatakan sangat penting bagi Taliban untuk mengutarakan tuntutan mereka.

"Mereka harus mengatakan apa yang mereka inginkan melalui dialog," tambahnya.

"Membunuh orang, menyiksa orang dan mencambuk orang... itu bertentangan dengan Islam. Mereka menyalahgunakan nama Islam."

Remaja yang berpidato di PBB Juli lalu itu juga berbicara mengenai keinginannya untuk kembali ke Pakistan dan memasuki dunia politik.

"Saya akan menjadi politisi di masa depan. Saya ingin mengubah masa depan negara saya dan saya ingin menjadikan pendidikan sebagai hal wajib," kata Malala.

"Saya harap suatu hari nanti rakyat Pakistan akan bebas, mereka akan memiliki hak dan ada perdamaian dan semua anak perempuan serta lelaki bisa bersekolah."

Berita terkait