Beckham menginspirasi ilmu filsafat

  • 23 Oktober 2013
beckham
Image caption David Beckham menginspirasi dosen filsafat Prancis memformulasikan Becksistensialisme.

Sebuah ide filsafat eksistensialisme baru yang terinspirasi dari mantan pesepakbola asal Inggris David Beckham akan diumumkan ke hadapan publik di Universitas Cambridge pekan ini.

Cabang yang disebut Becksistentialisme ini menggambarkan kebangkitan filosofis Beckham selama ia bergabung dengan klub Paris Saint Germain dan akan diperkenalkan pada Festival Ide Cambridge.

Penemunya yaitu Dr Andy Martin mengatakan Becksistentialisme adalah "eksistensialisme tetapi dengan potongan rambut sangat keren."

Eksistensialisme adalah salah satu aliran dalam filsafat barat yang mempersoalkan keberadaan manusia.

Kuliah ini akan didasarkan pada blog Dr Martin, Becks in Paris.

Blog ini "membayangkan monolog internal Beckham saat ia bertabrakan dengan tradisi intelektual Paris -permukaan berkilauan dari ikon sepakbola telah dibuka oleh eksistensialisme. Si anak emas didekonstruksi."

Dr Martin, yang adalah seorang dosen filsafat Prancis di Universitas Cambridge, mulai menulis setelah mantan bintang Inggris ini menandatangani kesepakatan bermain dengann Paris Saint Germain sebelum pensiun pada Mei lalu.

'Krisis Becksistential?'

Beckham telah mencapai titik balik dalam kehidupan, Dr Martin mengungkapkan alasannya.

Apakah dia menyerah pada gagasan kecemasan eksistensialisme, ketidakberartian, dan absurditas seperti yang didefinisikan oleh penulis besar Prancis, Sartre?

Ataukah dia menemukan "yang terbaik dari semua kemungkinan dunia" seperti tokoh Candice yang ditulis Voltaire?

Dr Martin melihat Beckham telah mengalami perjalanan mirip dengan tokoh Candide, yang dimulai dengan optimistis pada akhirnya dipaksa oleh kehidupan untuk mengambil pandangan yang lebih kompleks.

"Saya dapat membayangkan diri saya mengalami kehidupan seperti yang ia jalani di Paris.

"Adalah tidak mungkin bagi pria yang rasional dan cerdas seperti Beckham untuk tidak memilirkan hal itu selama dia di sana."

Dr Martin mengatakan hubungan antara filosofi dan sepakbola melampaui kepribadian seseorang.

"Derrida (seorang filsuf asal Prancis) dulu adalah salah satu penggemar klub Paris Saint Germain.

"Filosofi membentuk kondisi sepakbola."

Berita terkait