Kekerasan perempuan marak di Mesir, warga bertindak sendiri

  • 24 Oktober 2013
Protes menentang kekerasan seksual di Mesir
Serangan terhadap perempuan menyulut demonstrasi baru di Mesir.

Para aktivis hak asasi manusia mengatakan kekerasan seksual di Mesir telah mencapai tingkat epidemik, sembilan dari 10 perempuan mengalami pelecehan seksual.

Serangan yang dilakukan secara berkelompok meningkat pesat sejak Presiden Hosni Mubarak digulingkan Februari 2011. Berdasarkan penelitian terbaru PBB, sembilan dari 10 perempuan di Mesir mengalami beragam bentuk pelecehan seksual.

Wartawan BBC Orla Guerin melaporkan dari ibukota Mesir, Kairo, maraknya serangan seksual terhadap perempuan membuat sekelompok orang membentuk kelompok pemburu pelaku.

Kelompok itu diberi nama HarAss the HarAssers. Para anggotanya turun ke jalan-jalan untuk memburu pelaku selama periode liburan yang sibuk.

"Mereka mengenakan jaket berwarna cerah dan membawa peralatan seperti cat spray dan senjata kejut listrik," tutur Guerin.

Salah satu ketua kelompok adalah Mohammed El Zeiny. Dia tercatat sebagai mahasiswa teknik yang tak segan-segan mengerahkan segala tenaga.

"Kami memang terlibat dalam kekerasan, apa yang kami lakukan adalah menghentikan fenomena itu sehingga kita tidak mempunyai pilihan lain kecuali menggunakan kekerasan" kata El Zeiny.

Demonstrasi politik

"Bila hanya membayangkan seorang anak perempuan dilecehkan di jalan dan kita hanya berdiam diri di rumah, itu bukan sikap jantan," tambah Mohammed El Zeiny

Orang yang dicurigai melakukan pelecehan ditangkap di depan umum dan baju pelaku dibubuhi tulisan cat "Saya seorang pelaku pelecehan".

Mesir sempat digemparkan dengan berita bahwa sejumlah perempuan mengalami serangan seksual dalam demonstrasi pada 30 Juni 2013 di Lapangan Tahrir.

Dua perempuan terekam kamera sedang diseret oleh sejumlah penyerang. Meskipun mereka akhirnya berhasil diselamatkan, para aktivis mencatat setidaknya terdapat 46 serangan beramai-ramai pada tanggal 30 Juni itu.

Kekerasan seksual digunakan sebagai alat untuk membungkam pengunjuk rasa, kata aktivis HAM dan para korban.

Sebagian besar serangan terjadi pada malam hari selama periode demonstrasi di Lapangan Tahrir.

"Saya ingin sekali melihat Lapangan Tahrir pada hari itu. Saya memutuskan pergi sendiri ke Lapangan Tahrir karena saya tidak bisa tidak pergi ke sana," kata Hania Moheeb, seorang wartawan lepas.

Pada hari itu, tanggal 25 Januari, bertepatan dengan peringatan kedua revolusi Mesir, Hania Moheeb pergi ke Lapangan Tahrir. Dia mengalami serangan seksual yang brutal selama lebih dari 30 menit.

Kini pihak berwenang Mesir telah membentuk unit khusus di kepolisian untuk menangangi kekerasan terhadap perempuan, tetapi seperti dilaporkan oleh Orla Guerin, tidak ada pelaku yang ditindak.

Berita terkait