Qualcomm disidik komisi Anti Monopoli

Qualcomm
Image caption Qualcomm adalah salah satu produsen chip paling besar di dunia terutama untuk produk ponsel.

Cina menggelar penyidikan untuk membuktikan dugaan bahwa salah satu raksasa produsen chip dunia, Qualcomm, melanggar UU anti monopoli di negara itu.

Perusahaan asal AS itu dituding melakukan pelanggaran meski tak dirinci apa bentuk pelanggrannya dengan alasan "penyelidikannya bersifat rahasia."

Sementara manajemen perusahaan itu mengaku "tak merasa telah dijatuhi sangkaan apa pun" oleh aparat setempat terkait tudingan pelanggaran tersebut.

Pemerintah Cina tengah memperketat pelaksanaan aturan usahanya sehingga mendorong harga barang di pasar konsumen meningkat.

Agustus lalu otoritas terkait Cina menjatuhkan denda tertinggi senilai 670 juta yuan (Rp1,2 triliun) terhadap enam produsen susu formula asing karena dianggap mengatur harga.

Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional Cina, lembaga yang juga tengah menyidik Qualcomm, juga mengelar penyelidikannya terhadap jalannya bisnis perusahaan-perusahaan farmasi awal tahun ini.

Disengaja

Penyelidikan terhadap Qualcomm dilakukan di tengah upaya Cina meluncurkan jaringan Evolusi Jangka Panjang (LTE) 4G di negara itu.

Cina akan mulai menawarkan layanan komunikasi ponsel komersial 4G pada 18 December.

Adalah China Mobile, operator jasa telekomunikasi terbesar Cina yang punya 700 juta pelanggan, yang akan jadi perusahan pertama yang menawarkan layanan itu.

Langkah ini akan diikuti oleh China Unicom serta China Telecom, dua operator ponsel terbesar lain negara itu.

Sementara Qualcomm adalah pemain kunci di wilayah ini dan menurut taksiran analis, penyelidikan terhadap perusahaan itu mungkin disengaja agar menguntungkan perusahaan lokal.

"Kami menduga penyelidikan ini terkait dengan peluncuran layanan TD-LTE oleh China Mobile... (karena) negosiasi penetapan harga chip dan tarif lisensi antara Qualcomm dan pabrikan di Cina diperkirakan terjadi pada saat ini," kata Travis McCourt dari Konsultan Raymond James & Associates.

Sementara menurut Cody Acree, seorang analis pada lembaga keuangan Williams Financial: "Anda sedang bersiap bertempur memperjuangkan royalti dengan pemegang hak jual layanan 4G ini dan sekarang tiba-tiba muncul penyelidikan anti persaingan tak sehat ini."

"Mungkin saja Komisi Reformasi sedang mulai mencari-cari alasan dan dalih tentang kenapa Cina ogah membayar royalti untuk layanan 4G."

Berita terkait