Ladang sawit Malaysia kekurangan tenaga kerja

  • 16 Desember 2013
  • komentar
Hendrik Hak atas foto BBC World Service
Image caption Hendrik dipercaya majikan mengurus hektaran ladang sawit di Sabah.

Lebih dari setengah masa hidupnya dihabiskan untuk mengolah ladang kelapa sawit milik warga Malaysia di kawasan Tawau, negara bagian Sabah.

Hendrik - nama tenaga kerja itu- menanam sawit, memupuk, mencabut rumput hingga memanen buah sawit milik majikan.

Di sisi jalan bergelombang, berdiri rumahnya dua lantai terbuat dari kayu. Ia yang berasal dari Pulau Solor, Nusa Tenggara Timur, tidak hidup sendiri di sana.

Istri, kelima anaknya dan cucu-cucunya pun tinggal di sebuah perkebunan terpencil.

Di ladang itu pula seluruh anggota keluarga Hendrik ikut mengurus tanaman yang menjadi salah satu primadona ekspor Malaysia.

Pekerja seperti Hendrik inilah yang saat ini sangat diperlukan sektor perkebunan kelapa sawit. Sebab areal ladang sawit seluas 5 juta hektar lebih di seluruh Malaysia itu saat ini kekurangan tenaga kerja.

“Dalam anggaran 5 juta hektar, kalau bandingan dalam 10 hektar satu pekerja kita perlu 500.000 pekerja,” kata Wakil Ketua Gabungan Pemilik Ladang (ISP) Charles Chow kepada wartawan BBC Indonesia Rohmatin Bonasir di Sandakan, Sabah.

Buah busuk

Hak atas foto BBC World Service
Image caption Menurut Charles Chow, pengurusan perizinan tenaga kerja asing terlalu lama.

Kenyataannya jumlah tenaga kerja asing terdaftar yang terjun di perkebunan, berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri Malaysia, hanya 347.000 orang.

Sekitar 80% adalah tenaga kerja Indonesia.

Kekurangan ini semakin buruk belakangan setelah pemerintah menghentikan pemutihan bagi tenaga kerja ilegal dan paling dirasakan di Sabah sebagai lumbung kelapa sawit.

“Memang sektor perladangan kelapa sawit ada kekurangan tenaga kerja sampai tahap di Sabah dekat 80.000, tapi ini anggaran yang tidak official. Sebenarnya mungkin anggaran sampai tahap 100.000,” ujar Charles Chow yang juga mempunyai perkebunan di Sandakan.

Akibatnya, buah sawit tidak dipetik sampai busuk meskipun musim panen seperti sekarang sehingga menyebabkan hilangnya potensi produktivitas.

“Selama satu bulan kerugian sampai 100.000 ton, selama satu tahun kerugian lebih dari 1 juta ton. Bila ini dihitung, potensi kerugian mencapai US$4 miliar,” tambahnya.

Pemerintah Malaysia telah melaksanakan program pemutihan bagi tenaga kerja asing ilegal sebagai bagian dari upaya mengetahui jumlah pasti tenaga kerja asing tanpa izin dan jumlah keperluan tenaga.

Namun pemutihan terbaru, seperti diakui Kementerian Dalam Negeri yang membawahi keimigrasian dan tenaga kerja asing, gagal mendapat dukungan dari perusahaan-perusahaan alih daya yang sebelumnya merekrut tenaga kerja luar negeri dan dari kalangan majikan sendiri.

“Majikan yang di luar sana begitu juga, tidak bekerja sama dengan kita. Oleh karena mereka pikir bukan kesalahan mereka karena tidak ada kontrak antara mereka dan kerajaan (pemerintah). Mereka hanya terikat dengan outsourcing company jadi kita dalam keadaan yang serba salah,” jelas Wakil Menteri Dalam Negeri Datuk Wan Junaidi Tuanku Jaafar.

Industri kelapa sawit menyumbang sekitar 80 miliar ringgit dari total produk domestik bruto Malaysia 936 miliar ringgit.