Peluang berbisnis UKM di tahun politik

cibaduyut
Image caption Industri sepatu rumahan di Cibaduyut, Bandung.

Jika membuka bisnis baru adalah resolusi Anda tahun ini, ada sejumlah rambu yang bisa dipertimbangkan dalam menentukan pilihan.

Berikut kami merangkum komentar sejumlah pakar tentang situasi ekonomi, peluang, dan tantangan yang akan dihadapi pebisnis kecil dan menengah yang patut Anda simak.

1. Bagaimana peluang bisnis di tahun politik ini?

Image caption Pemilu legislatif akan dimulai pada 09 April 2014 mendatang.

Walau diwarnai dengan kegaduhan politik, pakar UMKM Universitas Indonesia Nining Indroyono mengatakan ada keuntungan yang bisa diambil dari momen pemilu.

Dia menilai pebisnis kecil yang jumlahnya sangat banyak pasti jauh lebih diperhatikan dari sebelumnya, mengingat pemerintah dan calon kandidat pasti berlomba-lomba menarik simpati.

"Salah satunya keputusan menteri perdagangan baru-baru ini yang mewajibkan pasar swalayan memasok barang-barang UMKM, tentu ini jadi langkah yang baik," katanya kepada wartawan BBC Indonesia, Christine Franciska

Pada Desember lalu, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan - yang juga bakal calon konvensi Partai Demokrat - menerbitkan peraturan yang mewajibkan ritel modern untuk menjual 80% produk dalam negeri.

"Ini langkah yang cukup baik, walau pendekatannya masih parsial karena masalah UKM bukan hanya itu," sambungnya.

2. Jenis usaha apa yang paling potensial?

Image caption Sektor makanan dan minuman masih menjanjikan.

Lebih dari 50% produk domestik bruto (PDB) di Indonesia ditopang oleh sektor konsumsi. Karena itu, berbisnis di sektor barang konsumsi yang berbasis pasar domestik bisa menjadi pilihan terbaik.

"Kalau bicara UKM, yang tumbuh paling cepat adalah makanan dan kerajinan. Industri kreatif dengan target pasar anak muda juga tumbuh cukup cepat dan inilah yang berkontribusi kepada pertumbuhan ekonomi," kata Nining.

Khusus dalam masa kampanye, usaha percetakan, sablon, dan makanan menurut Aviliani akan diuntungkan lebih diuntungkan. "Kecenderungannya, konsumsi memang selalu naik di tahun pemilu, setidaknya 0,3% dari PDB," katanya.

3. Apakah usaha kecil saya perlu membayar pajak?

Jawabanya, ya tentu saja! Mulai 1 Juli 2013, pemerintah menerapkan pajak 1% dari omzet bagi usaha kecil dan menengah. Ini berlaku bagi usaha yang memiliki omzet dibawah Rp 4,8 miliar per tahun.

"Setiap warga negara berkewajiban untuk membayar. Sektor informal kita menyumbang 70% perekomian tapi kebanyakan tidak melakukan itu karena tidak punya laporan pembukuan yang baik," kata Aviliani.

Karena itu, pebisnis harus mulai membiasakan untuk membuat laporan keuangan tertulis sederhana dan melaporkan penghasilannya. Hal ini sangat penting untuk mengembangkan usaha dan mendapatkan suntikan modal bank. .

"Harus berani bayar pajak untuk menjadi besar. Banyak yang ingin bekerja di bawah radar pajak, tapi semakin dia ada di bawah radar, semakin dia tidak bisa besar," kata Nining.

4. Apakah akses modal sulit?

Image caption Sekitar 70% pelaku bisnis bergerak di sektor informal.

Kabar baik bagi Anda yang ingin memulai usaha karena banyak bank sekarang fokus untuk meningkatkan kredit mikro sehingga akses modal sudah lebih mudah dibandingkan sebelumnya.

Bank Indonesia sendiri mewajibkan tiap bank untuk menyalurkan 20% kredit ke pelaku usaha UMKM.

Tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia yang naik dari 5,75% menjadi 7,5% tahun lalu juga tidak terlalu masalah. Pasalnya, kebanyakan pengusaha kecil tidak memikirkan bunga tinggi.

"Yang penting cepat. Kalau lama momen bisnisnya sudah hilang. Jadi bunga tinggi tidak terlalu masalah karena margin (keuntungan) mereka pun cukup tinggi," kata Nining.

5. Bagaimana situasi persaingan bisnis?

Image caption Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015 akan membuka akses perdangaan.

Apapun jenis usaha Anda, sebaiknya mulai saat ini bersiaplah untuk menghadapi era perdagangan bebas di ASEAN yang akan berlaku mulai 2015 mendatang.

Dalam mekanisme ini, semua produk yang diproduksi 10 negara ASEAN akan bebas masuk ke Indonesia. Ini akan sangat berpengaruh bagi bisnis yang berbasis industri seperti pembuatan batik, kerajinan, fesyen, dan lainnya. Sementara bisnis berbasis perdagangan tidak akan terlalu berpengaruh.

Kunci untuk bertahan, menurut pakar, adalah membuat bisnis dengan target pasar yang spesifik dan menambah nilai lebih (seperti layanan yang terbaik misalnya).

Persaingan antar pebisnis diprediksi akan semakin ketat. Adapun, tantangan besar yang harus dihadapi adalah bagaimana membuat masyarakat Indonesia untuk mau membeli produk dalam negeri di tengah maraknya demam membeli produk impor.

Berita terkait