Cerita tiga generasi pendalang

Tiga generasi pendalang Hak atas foto BBC World Service
Image caption Pandam (tengah) diapit ayahnya Giri (kanan) serta kakeknya Wagiman.

Budaya ratusan tahun kerajinan wayang kulit di desa Kepuhsari, Wonogiri, Jawa Tengah, menelurkan sejumlah generasi pengrajin dan juga pendalang.

Pandam Aji Anggoro Putra, yang baru berusia 10 tahun dengan mengenakan beskap, siap mengangkat kisah favoritnya, Lahirnya Gatotkaca, malam Selasa lalu (14/01).

Ayah Pandam, Giriyanto Kuncoro Aji, membantu kelompok menabuh, sementara kakeknya Wagiman Sugiyanto yang berusia 71 tahun ikut menyaksikan.

Sekitar 20 orang hadir, termasuk para tetangganya, beberapa pengunjung dari Jakarta, untuk menyaksikan latihan dalang cilik yang sudah beberapa kali mendapatkan penghargaan sebagai pedalang cilik.

Dengan semangat Pandam mengangkat kisah kesenangannya, sambil beberapa kali tangan kecilnya melempar dan menangkap wayang kulit yang ia mainkan.

Beberapa teman sebaya Pandam sesekali tergelak menyaksikan lakon Lahirnya Gatotkaca selama latihan sekitar satu jam itu.

Kaitan emosi dengan wayang

Dalang cilik ini sudah beberapa tahun mahir mendalang, mengikuti langkah bapak dan kakeknya.

Hak atas foto BBC World Service
Image caption Lahirnya Gatotkaca merupakan salah satu kisah kesenangan Pandam.

Ayah Pandam, Giriyanto, sempat tidak tertarik untuk meneruskan tradisi ini dan mengambil kuliah managemen.

"Sampai suatu waktu saya ikut kursus singkat dalang dan dianggap berpotensi, jadi saya semacam dipaksa untuk menjadi pendalang," cerita Giri.

"Akhirnya saya teruskan untuk belajar selama tiga tahun," tambah Giri yang juga ketua asosiasi pengrajin wayang kulit di desa Kepuhsari.

Giri juga bekerja sebagai staf tata usaha di SMP Negeri Manyaran yang memiliki pelajaran Tatah Sungging, menatah dan mewarnai wayang.

Sementara ayah Giri, Wagiman mulai mendalang pada akhir tahun 1950an dan pensiun tahun 1990an.

Hak atas foto BBC World Service
Image caption Giriyanto (kiri) mengatakan sempat tidak tertarik untuk menjadi dalang.

"Yang terpenting untuk menjadi pendalang adalah harus sering melihat dan juga sering buat wayang," kata Giri lagi.

Sementara bagi Pandam, yang baru berusia 10 tahun, menjadi dalang 'tak perlu dipaksa' seperti ayahnya.

"Emosinya begitu kuat (dengan wayang) dan selalu ingin mendalang," kata Giri.

Berita terkait