Sel otak hilang karena kurang tidur

  • 19 Maret 2014
tidur
Image caption Kurang tidur mengakibatkan hilangnya 25% sel otak.

Penelitian menunjukkan kurang tidur dapat berakibat serius, yaitu hilangnya sel otak secara permanen.

Pada tikus, kurang tidur berkepanjangan menyebabkan 25% dari sel-sel otak tertentu mati, menurut sebuah studi dalam The Journal of Neuroscience.

Jika hal yang sama berlaku pada manusia, mungkin sia-sia untuk dapat mengganti hilangnya waktu tidur kita, kata para ilmuwan Amerika Serikat.

Wartawan BBC Helen Briggs melaporkan bahwa para ilmuan berpikir mungkin suatu hari nanti dapat mengembangkan obat yang dapat melindungi otak dari efek samping kurangnya tidur ini.

Penelitian, yang diterbitkan oleh The Journal of Neuroscience, melihat tikus di laboratorium yang tetap terjaga meniru jenis-jenis kurang tidur pada umumnya dalam kehidupan modern, seperti bekerja pada shift malam atau menghabiskan waktu berjam-jam di kantor.

Sebuah tim di University of Pennsylvania School of Medicine mempelajari sel-sel otak tertentu yang terlibat dalam menjaga sistem peringatan otak.

Setelah beberapa hari melihat pola tidur yang sama pada orang-orang yang bekerja di malam hari - tiga hari bekerja pada shift malam hanya dengan empat sampai lima jam tidur dalam waktu 24 jam - tikus kemudian kehilangan 25% sel otaknya , yang dikenal sebagai locus coeruleus (LC) neuron.

'Kerusakan permanen'

Para peneliti mengatakan ini adalah bukti pertama bahwa kurang tidur dapat menyebabkan hilangnya sel-sel otak.

Tapi mereka menambahkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengetahui apakah orang-orang yang kehilangan waktu tidur mungkin juga berada pada risiko kerusakan otak permanen.

Prof Sigrid Veasey dari Center for Sleep and Circadian Neurobiology, mengatakan kepada BBC "Kami sekarang memiliki bukti bahwa kurang tidur dapat menyebabkan kerusakan permanen.

"Ini adalah contoh sederhana yang ditunjukkan pada hewan namun kita harus berhati-hati pada manusia."

Dia mengatakan langkah berikutnya untuk menguji otak para pekerja shift setelah adanya bukti kematian dari hilangnya sel-sel otak.

Berita terkait