Kemiskinan masih dominan di pedesaan

Mateos Taebenu Hak atas foto BBC World Service
Image caption Mateos Taebenu sudah ditinggal istri dan menantu tapi mengaku tetap tabah dan bahagia.

Di usianya yang sudah 56 tahun, semangat dan tubuhnya masih kokoh mengumpulkan kayu kering dan batu karang untuk dijual.

Ia harus menghidupi dua anak dan tiga cucunya yang masih duduk di sekolah dasar. Dalam satu bulan setidaknya harus ada uang Rp500.000 untuk makan enam orang, perlengkapan sekolah dan kadang-kadang memperbaiki rumah.

“Selalu pengeluaran lebih besar dibanding pendapatan. Saya tidak menghitung kurangnya berapa tetapi kerja lagi dan kerja lagi,” tutur Mateos Taebenu.

Mateos tinggal di sebuah rumah berdinding batako di bagian depan saja. Selebihnya adalah dinding papan kayu yang berlubang di banyak sudut. Lantainya berupa tanah.

Warga Oelomin, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur ini, menurut Badan Pusat Statistik, adalah salah satu dari 29 juta jiwa penduduk miskin di Indonesia.

Dengan mudah Mateos masuk kategori warga miskin di Indonesia sebab pengeluarannya jelas kurang dari garis kemiskinan.

"Kemiskinan selalu dilihat dari konsumsi. Garis kemiskinan sekarang Rp292.961/kapita/bulan," jelas Dr. Bambang Widianto, Deputi Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Penanggulangan Kemiskinan, Sekretariat Wakil Presiden RI.

Konsumsi makan

Uang itu adalah untuk konsumsi nonmakanan antara lain biaya kesehatan, pendidikan, transportasi dan perumahan.

Selain itu seorang warga tergolong miskin bila ia tidak mampu memenuhi keperluan makan 2.200 kalori/orang/hari. Sekitar 60% pengeluaran warga miskin untuk konsumsi makanan.

Warga miskin, seperti Mateos Taebenu di Nusa Tenggara Timur di bagian atas tadi, sebagian besar, 17,92 juta orang, tinggal di pedesaan.

"Profil kemiskinan di Indonesia masih merupakan fenomena pedesaan. Artinya, sebagian besar penduduk miskin masih di pedesaan di sektor pertanian khususnya dan kalau mau lebih dalam lagi mereka bekerja di sektor informal," kataTeguh Dartanto, Kepala Kajian Kemiskinan dan Pembangunan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat–Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Namun belakangan kemiskinan absolut di perkotaan tidak jauh berbeda dengan kondisi lima tahun lalu. Teguh Dartanto menyebut ada dua faktor.

"Ada shifting (perpindahan) penduduk miskin dari desa ke kota. Yang kedua, apa yang terjadi adalah definisi desa itu berubah sehingga yang dulunya desa sekarang menjadi kota."

Di pedesaan maupun di perkotaan, kemiskinan merupakan persoalan besar di Indonesia. Dengan pertumbuhan ekonomi di atas 5%per tahun, rata-rata masih terdapat 12 warga miskin di setiap 100 penduduk Indonesia.

Angka itu lebih rendah dibanding perkiraan para ekonom yang meyakini jumlah penduduk miskin di Indonesia sebenarnya jauh lebih besar dibanding versi pemerintah.

Berita terkait