Mengapa sekuel The Raid dibuat?

Hak atas foto AP
Image caption Iko Uwais berperan sebagai polisi yang memerangi geng kriminal di kedua film The Raid.

Sutradara asal Wales, Inggris, Gareth Evans mengungkapkan mengapa ia menggarap sekuel The Raid, film laga bela diri yang menjadi hit pada 2011.

Film Indonesia, The Raid memakan biaya produksi sebesar US$1juta (Rp 11,4miliar) tetapi memperoleh pemasukan 15 kali lebih besar dari box office pada 2011.

Sejumlah kritik menyebutnya sebagai film laga terbaik sepanjang masa, aksi bela diri mendetail yang ditampilkan dan banyaknya jumlah aktor menjadikannya populer di kalangan para penggemar.

Kini The Raid 2 ditayangkan di Inggris, empat bulan setelah pemutaran perdana dunia di Festival Film Sundance bulan Januari.

Evans yang berusia 34 tahun saat ini tinggal di Indonesia.

Menurutnya plot film The Raid sangat sederhana karena keterbatasan dana.

Seorang polisi bernama Rama harus berjuang masuk ke gedung yang dikontrol oleh geng kriminal.

Populer

Sebaliknya, The Raid 2 "memiliki alur cerita yang lebih luas tentang dunia kriminal dari film pertama," jelas Evans.

"Jika penonton ingin mengikutinya, sekuel ini sangat berbeda dibandingkan yang pertama," tambahnya.

The Raid menjadi film Indonesia tersukses dalam sejarah dan mendorong ketertarikan pada Pencak Silat, sekaligus membuat aktor utama, Iko Uwais meraih popularitas.

"Film ini memberi jaminan karir bagi saya dan Iko. Saya tentu mendapat tawaran untuk membuat film lain, tetapi tidak ada yang sebanding dengan pembuatan sekuel. Saya saya sangat berkomitmen untuk itu," tambah Evans.

Evans dan Uwais telah menandatangani kontrak dengan agen bakat bergengsi AS, William Morris untuk memproduksi The Raid versi Hollywood.

"Saya kira tidak bisa dihindari bahwa film berbahasa asing yang bagus akan dibuat dan Hollywood akan tertarik," ujar Evans.

Berita terkait